• Sidang Majelis Agung Istimewa Artikel Gerakan Warga GKJW gkjw Feeds GKJW

    Sidang Majelis Agung Istimewa, Artikel, Gerakan Warga GKJW, gkjw.org

    Sidang Majelis Agung ke-4 tahun 1933 di Peniwen terasa istimewa. Hari itu Minggu 18 Mei 1933, hari terakhir sidang. Tiga orang lanjut usia dan satu anak dari Pulau Bali dibaptis. Disidang hari sebelumnya, Tartib Eprayim telah memberikan pidato laporan perjalanannya ke Pulau Bali dengan rinci dan sangat luar biasa. Baptisan Pak Sandi dan istri, cucu perempuannya dan Pak Soekaja saat itu terasa istimewa. Mereka datang langsung dari Bali dengan usaha dan biaya sendiri. Prosesi baptisannya " merusak" pakem liturgi yang selama ini ada. Menarik dan cukup berani. Karena ditengah acara sidang majelis tertinggi ( Sinode) . Prosesi baptis, mereka diijinkan memakai pakaian adatnya ( Bali) . Ketika baptis tidak berdiri atau " jengkeng" . Mereka duduk bersila seperti adat sembah di Bali. Jawaban baptisnya pun dengan kalimat bahasa Bali. Lalu menutupnya dengan nyanyian " Engkau Yesus kuikuti " . Itupun juga mereka nyanyikan dengan nada seperti tembang langgam Bali. Ditengah kumpulan orang Kristen ( Gereja) Jawa, sebagai orang Bali mereka terlihat tidak canggung dan berubah. Tetapi ada sesuatu yang berbeda. Seperti yang mereka katakan sendiri, AuKawangun dening Sang KristusAy ( dibuat baru oleh Kristus) . Ai Setelah terbunuhnya misionaris De Vroom di tahun 1881, Utrechtsche Zendings Vereeniging mundur dari Pulau Bali. Sejak itu Pulau Bali seperti tertutup dari kabar sukacita. Pemerintah kolonial saat itu dengan hati-hati memberikan kebebasan beragama di Hindia-Belanda. Pasal 177 jo 173 IS ( Indische Staatsregeling) adalah dasar rujukannya. Intinya pemerintah memberikan kebebasan memeluk ( memilih) agama tetapi harus menjaga ketertiban dan ketentraman masyarakat setempat. Semua usaha PI harus dengan se-ijin Gubernur Jenderal. Demikian pula untuk pekerjaan sosial misionaris ( pendidikan & kesehatan) , distribusi literatur Kristen, penelitian bahasa ilmiah di pelayanan Lembaga Alkitab dan mengunjungi anggota jemaat di pelosok diperlukan izin khusus tambahan. ( Bijblad no. 1127 dan 4642) . Sekitar awal tahun 1932 beberapa orang dari Bali Utara telah mencari kontak tentang Kekristenan ke Jawa Timur. Pada Sidang Majelis Agung di Swaru Bulan November 1932, diputuskan untuk mengirimkan misi Bali dari Gereja Jawa Timur. Diutuslah Tartib Iprayim dan Darmoadi. Sedangkan Dr. Kraemer sebagai penasihatnya. Akhir Januari Tartib Eprayim dan Darmoadi pergi ke Bali Utara. Mereka tidak membawa apa-apa, keluarganya pun tidak. Empat minggu di Bali, 1-2 minggu pulang untuk laporan ke Kreamer dan bertemu keluarga. Bersamaan itu seorang kolpotir Salam Mattijas diutus British and Foreign Bible Society ke Bali. Di Bali Selatan Christian Missionary Alliance ( Misi Amerika) yang berpusat di Makassar juga bekerja. Chiang Kam Fuk utusannya memiliki izin melayani diantara orang-orang Cina. Tetapi banyak juga pribumi yang diInjili. Pendeta Jaffray datang dari Makasar , sudah membaptis total 300 orang Bali. Berbeda jauh dengan di Bali Utara hanya 38 orang dibaptis di Bubunan, itupun dari empat desa. Tetapi imbas dari baptisan antara Bali Utara dan Selatan terdapat perbedaan tajam. Di Bali Utara dengan model Tartib Eprayim sebagai saudara " wong Mojopahit" , biarpun ada penolakan orang Kristen baru oleh adat ( desa) tetapi dapat diselesaikan dengan bijak. Tartib menyarankan kewajiban sosial ( kewajiban bayar) kepada desa tetap dilakukan. Ia menghargai adat Bali tanpa merendahkan. Menganggap saudara, sesama wong Mojopahit. Tak heran laporan dari kolpotir, buku tembang Rasa Sejati dari Paulus Tosari yang banyak diminati. Sedangkan di Bali Selatan, baptisan menuai banyak kritik dan pertentangan masyarakat setempat. Bahkan ketika para " Guru Jawa" ( panggilan orang Bali untuk Tartib Eprayim, Darmoadi, Nekamio dan Salam. Bandingkan dengan panggilan " Tuwan Amerika" untuk memanggil Pendeta Jaffray) pulang ke Jawa, Pendeta Jaffray tiba-tiba datang ke Bali Utara. Memaksa orang Bali yang percaya untuk dibaptis. Tetapi jawab orang Bali itu, " kami akan menunggu Guru Jawa kami datang, entah apa keputusannya" . Ketika Guru Jawa datang, mendengar itu Tartib Eprayim tetap bijak menanggapinya, " Sebagai orang Kristen disini aku merasa malu " . Tetapi rasa jengkelnya kadang memuncak. Kreamer dalam catatannya ke Bali pernah menulis, " Guru Tartib pernah berkata kepada saya, berbicara banyak dan asal tentang Roh Tuhan membuat saya jijik" . Benar saja setelah itu kampanye anti Kristen mulai marak di Bali. Pertentangan pun sampai ke Volksraad. Soekowati anggota Volksraad memperdebatkannya. Ia membuat mosi tidak mengakui misi di Bali. Hasilnya 41 suara melawan 9. Penyelidikan pun dimulai. Seorang Residen ( Bupati) di Bali mengatakan, telah ada 20 pengajuan misi di tempatnya. Mulai dari Pantekosta, Adven sampai Roma Katolik. Ia pun menyayangkan, dengan pertentangan ini, " membuat buruk citra Kristen" terangnya. Bukan saja orang Bali yang bersimpati ke Kristen diinterogasi, Tartib Eprayim pun demikian. Mulai dari carik desa sampai Residen ia dipanggil. Walau lelah Tartib menjawab apa adanya. Awalnya orang-orang Bali yang menawarkan diri. Sambil memberi contoh, 4 orang dibaptis di Peniwen dan 2 orang dibaptis di Mojowarno. Mereka jauh-jauh kesana dengan kesadaran dan biayanya sendiri. cari Google Map Akhirnya hasil penyelidikan diumumkan. Tartib Eprayim ( misi dari Majelis Agung) tidak melanggar ketentuan pasal 177 dan 173 IS. Dan mencabut izin Chang Kam Foek ( Christian Missionary Alliance) dengan keputusan pemerintah tanggal 29 Agustus 1933 No. 15. Ai Misi Bali adalah cerita yang istimewa. Karena kekurangan dana, semua mendukungnya. Seperti di Mojowarno diadakan Pasar Dermo. Sungguh luar biasa, basar hanya 2 malam ini dihadiri sekitar empat ribu orang. Uang yang didapatkan 150 gulden. Perkumpulan wanita, " Wanito Roekoen Santoso" juga tidak mau ketinggalan. Bagaimana caranya ikut serta mendukung misi, terutama bagi perempuan Bali. Akhirnya para " Guru Jawa" itu tidak sendirian lagi. Dari hasil usaha itu, mereka bisa memberangkatkan istri dan keluarganya ikut mendampingi ke Bali. Penambahan Pendeta Nekamio ( Maron) ke Bali juga hasil usaha ini. Inilah sedikit catatan tentang sidang majelis tertinggi Gereja kita 88 tahun lalu. Sinode muda ini sudah melaporkan hasilnya. Tugas dan panggilan Gereja memang mengumpulkan orang percaya untuk bersekutu bersama. Tetapi tugas panggilan Gereja bukan hanya Koinonia ( bersekutu) saja, tetapi juga Marturia ( bersaksi) dan Diakonia ( melayani) . ( image) Baca selanjutnya: 1 Ae Gereja Baru 2 Ae Mengurai Kontroversi Seputar Salam Lintas Agama 3 Ae Musqab Gaib, Akhir Pencarian Elmu - H 14 PSBB.Sby 4 Ae Nasi Bungkus Covid-19 5 Ae Bung Karno, Persahabatan Mesir - Indonesia dan Pancasila

    1. 23 Jun 2022
  • Seberapa Pantas Wisuda TK dan SD Y Bineka Gerakan Warga GKJW gkjw
    Seberapa Pantas Wisuda TK dan SD Y, Bineka, Gerakan Warga GKJW, gkjw.org

    GKJW Feeds - Beberapa tahun belakangan, saya heran dengan maraknya wisuda yang banyak terjadi di acara kelulusan atau pelepasan siswa-siswi TK, SD, SMP, dan SMU. Namun di akhir tahun pelajaran ini, heran itu berubah menjadi risih-resah, saat anak ketiga minta toga lengkap dengan jubahnya untuk acara wisuda kelulusannya di jenjang Sekolah Dasar. Mungkin bagi sebagian orang, fenomena ini adalah hal yang biasa, wajar, dan bahkan berdalih kebebasan, senang-senang, atau kepentingan foto-foto semata. Tapi bagi saya, ini aneh. Aneh, melihat anak saya yang baru menempuh sejenjang dari sekian panjang deretan jenjang pendidikan Indonesia hari ini sudah memakai toga. Aneh dan memprihatinkan, melihat anak-anak kecil bermake up tebal dan berhigh-hell. Ini saya lihat di banyak acara seperti drumb band, gerak jalan, lomba-lomba dll, meluruhkan segala kepolosannya. Aneh, karena tanpa tau siapa yang memulai dan atas alasan apa, banyak lembaga pendidikan yang mengekor turut latah mengadakannya. Aneh, karena anak-anak kecil itu, tentu saja belum tau apa makna wisuda. Tidak adil rasanya jika anak-anak tersebut tidak dijelaskan apa fungsi dan alasan mereka harus memakai toga. Aneh, aneh, aneh. Karena sesungguhnya warna hitam toga itu menyimbolkan misteri kegelapan yang berhasil dikalahkan oleh wisudawan/ti sewaktu diperkuliahan. Karena pada topi perseginya, sudut-sudutnya melambangkan bahwa seorang sarjana dituntut untuk berpikir rasional dan memandang segala sesuatu dari berbagai sudut pandang. Jangan sampai sudah menyandang status sarjana tapi pola pikirnya masih sempit. Karena makna pemindahan kuncir toga dari sebelah kiri ke kanan adalah simbol dari telah selesainya materi, teori dan arahan yang diberikan oleh dosen untuk selanjutnya masuk ke dunia baru, yaitu dunia aplikasi dan pengamalan ilmu yang telah didapat. Belum lagi makna tali dan tassel pada topi toga yang setiap guru yang sarjana pasti tahu. Semuanya tidak sesuai dengan kelulusan jenjang sekolah dasar atau menengah, terlebih Paud atau TK. Jika dulu wisuda memiliki makna yang agung dan besar karena merupakan pencapaian seseorang setelah melewati berbagai jenjang pendidikan, serta keberhasilan seseorang meraih pendidikan tinggi yang dicita-citakan, Maka sekarang, makna wisuda tergerus seiring bertambah marak dan seringnya anak mengalami itu. Nilai dan kebanggaan wisuda sarjana kian menurun. Dulu, wisuda berarti sarjana. Saat ini, entah. Jikalau boleh memberi saran, ada baiknya pelaksanaan acara serupa ini dikaji ulang kemanfaatannya. Tidakkah lebih hebat jika kita libatkan siswa-siswi dalam hal persiapan acara, pementasan seni, pendekoran panggung, pembuatan photobooth yang sesuai tema kelulusan, juga sesuai usia dan jenjangnya? Pelepasan siswa masih bisa diselenggarakan secara sakral tanpa perlu anak-anak bergaya seolah mahasiswa yang telah usai skripsi, atau sekedar mengikuti trend yang sedang viral. Jalan mereka masih panjang. Butuh setidaknya 10 tahun ke depan untuk menggenapi gelar sarjana kebanggaan kelak setelah mereka berhasil lulus sebagai seorang maha pelajar. Teramat besar beban yang mesti dipikul para pemakai toga. Jangan memaksakan beban itu kepada anak-anak lulusan SMU, SMP, SD, dan TK. Semoga makna toga tidak hanya menjadi sebuah filosofi, apalagi sekedar dijadikan simbol kelulusan tanpa mengerti arti, namun mampu diimplementasikan oleh para sarjana. AminA ( Copas All Media) Salam #waras #GuruPenggerak Yasir Husain ( image) Baca selanjutnya: 1 Ae Warga GKJW Tetulung 2 Ae Mental Block: Kurang Percaya Diri 3 Ae Sate Babi Segaran: Gede Murah Enak 4 Ae Bisnis itu Mulia? Betul! ! 5 Ae Rangkuman BBS P2 Pokja PEW GKJW

    1. 23 Jun 2022
  • Penjual Roti Artikel Gerakan Warga GKJW gkjw
    Penjual Roti, Artikel, Gerakan Warga GKJW, gkjw.org

    GKJW Feeds - Saat makan siang tadi, Edwin, anak sulung kami, mengajak saya diskusi tentang buku The Alchemist -Paulo Coelho-. Buku itu dia baca sejak hari Senin malam, tadi pagi dia sudah selesai membaca hanya saja dia bingung dengan akhir kisahnya yang menggantung. Sambil makan saya ajak Edwin kembali memahami bagian per bagian perjalanan Santiago, anak muda penggembala kambing yang menjadi tokoh utama sang Alkemis. Saya sengaja menjawab Edwin dengan menyebut kesimpulan kisah Alkemis, Edwin harus berusaha memahami dan menyimpulkan sendiri. Selain itu saya sudah mulai banyak yang lupa isi buku itu, maklum saya terakhir membaca Sang Alkemis sekitar Maret atau April tahun lalu. Diskusi berlangsung seru, untungnya Edwin lebih dominan membahas runtutan perjalanan Santiago. Saya tinggal menimpali apa yang disampaikan Edwin, walau beberapa kali saya keluar jalur, Edwin hanya tertawa. Di satu bagian, saya sempat merasa seperti dipause, untuk beberapa saat waktu sepertinya berhenti berputar. Ini terjadi ketika Edwin menjelaskan pesan moral yang dia ambil dari kehidupan penjual roti di alun-alun kota Andalusia. Andalusia adalah kota yang dipilih oleh Paulo Coelho menjadi lokasi awal kisah Sang Alkemis. Penjual roti di alun-alun kota Andalusia adalah orang yang pernah punya mimpi ingin berkelana ke Afrika, tetapi dia memutuskan untuk membuka toko roti, lalu mengumpulkan uang. Nanti, kalau sudah tua, dia ingin bepergian selama sebulan ke Afrika. Setelah toko rotinya maju dan menghasilkan banyak uang, dia justru larut dalam kesenangan mengumpulkan uang, mimpinya berkelana ke Afrika dilupakan. " Mimpi itu harus dijaga, dirawat dan terus diusahakan sampai terwujud." , kata Edwin mulai menguraikan pesan moral yang dia ambil dari kisah penjual roti. Selebihnya kami berdua membahas pesan moral yang Edwin maksudkan, yang membuat saya merasa dipause adalah saat Edwin menyebut kita juga bisa kehilangan mimpi dari Tuhan kalau menunggu situasinya memungkinkan. Mak deg, saya tercekat dia bisa mikir ke situ. Tadi saat menyebut mimpi dari Tuhan pun bisa hilang, Edwin menggunakan kalimat yang sangat sederhana tetapi saya lupa kalimat itu persisnya seperti apa. 04 Januari 2000 adalah hari keberangkatan saya ke Papua, sebelum berangkat saya pamitan kepada beberapa orang, keluarga dan persekutuan yang melayani saya. Salah seorang yang saya temui berkata, dia juga mendapat visi untuk pergi ke Papua, tetapi dia masih mempersiapkan segala sesuatunya. Katanya mengerjakan visi dari Tuhan harus dipersiapkan dengan baik, tidak bisa dilakukan sembarangan. Saya tidak tahu dan tidak pernah tanya, persiapan apa saja yang dia lakukan, karena sampai hari ini dia belum berangkat ke Papua. Mungkin masih persiapan atau sudah lupa, hanya Tuhan yang tahu. Bukan hanya penjual roti di Andalusia dan teman saya di Malang yang bisa lupa mimpi atau visi, kita semua ( termasuk saya) bisa mengalami atau saat ini sedang lupa terhadap mimpi atau visi yang pernah diterima dari Tuhan. Penyebab lupa bisa macam-macam, mungkin seperti penjual roti yang masih ingin ngumpulin uang dulu, atau seperti teman saya yang menunggu semuanya harus siap dulu. Seusai diskusi dengan Edwin, saya membaca ulang buku sang Alekmis untuk mengingat bagaimana Santiago bisa tahu penjual roti di alun-alun Andalusia pernah mimpi berkelana ke Afrika, ternyata yang memberitahu Santiago adalah Melkisedek, raja Salem. Orang tua yang mengganggu saat Santiago serius membaca buku, mengajak berkenalan dengan cara aneh, membaca pikiran Santiago, menuliskan nama orang-orang yang dikenal Santiago, mengajari tentang banyak hal, dan memberitahu mimpi penjual roti. Melkisedek berkata kepada Santiago, penjual roti itu tidak bisa mewujudkan mimpinya karena dia tidak tahu bahwa impiannya bisa dilaksanakan kapan saja. Apakah benar mimpi atau visi bisa dilaksanakan kapan saja seperti yang dikatakan Melkisedek kepada Santiago, bahwa mimpi bisa dilaksanakan tanpa menunggu punya uang, keadaan baik, kesempatan yang memungkinkan, bagaimana caranya? Pertanyaan itu tiba-tiba menyeruak di benak saya, saat itu juga saya mendengar 'Melkisedek' berkata lembut : Nuh memulai mimpinya tanpa uang, keadaannya sedang tidak baik, dibully banyak orang, semua serba tidak memungkinkan. Saya pun bergegas membuka aplikasi Alkitab, Kejadian 6:22 menyebutkan, Nuh melakukan semua itu hanya dengan ketaatan kepada Firman Tuhan. In His Vine Finish Winarto Nabire Ae Papua. ( image) Baca selanjutnya: 1 Ae Ikhtisar Setengah Perjalanan Kita ( 2) 2 Ae AuNew NormalAy : Sanggupkah GKJW Menelannya ? 3 Ae ALLAH ( kok) Punya Anak - H 17 PSBB.Sby 4 Ae Arifin dan Kasur Kapuk 5 Ae Refleksi Rumahan #30: Peradaban Keramaian

    1. 21 Jun 2022
  • Tata Kelola Yang Baik Sebagai Sumber Kepercayaan Organisasi Artikel Gerakan Warga GKJW gkjw
    Tata Kelola Yang Baik Sebagai Sumber Kepercayaan Organisasi, Artikel, Gerakan Warga GKJW, gkjw.org

    GKJW Feeds - Saatnya untuk bicara lebih serius. Setelah keriuhan pendapat terkait penempatan dana abadi GKJW di sejumlah koperasi dan badan usaha investasi Aemenuai banyak perhatian termasuk di media sosialAe saatnya memikirkan langkah perbaikan. Pengakuan terbuka Pelayan Harian Majelis Agung ( PHMA) akan kesalahan dalam mengelola dana, patut disambut dengan hati terbuka untuk perbaikan. Selain pengampunan dalam kasih agar menjadi pembelajaran bagi semua. Namun pekerjaan perbaikan juga perlu dipikirkan, agar tak terjerembab kembali. Awalnya harus dipahami, dana abadi ini adalah salah satu saja dari asset, baik yang tetap maupun bergerak, di dalam organisasi besar bernama GKJW. Salah satu pertanyaan yang mengemuka adalah: bagaimana cara sebuah organisasi mengelola aset yang dimiliki, agar peristiwa semacam salah kelola dana abadi GKJW ini tidak terjadi kembali? Jawaban pertanyaan ini sebenarnya sederhana: tata kelola yang baik, atau good governance. Ini mudah diucapkan, namun memerlukan integritas dan dedikasi untuk menjalankannya. Jika kita membuka referensi manajemen maka tata kelola yang baik terdiri atas beberapa prinsip yang disingkat dengan istilah TARIF. T adalah transparan ( terbuka) ; A adalah akuntabilitas ( menjaga kepercayaan) ; R adalah responsif ( tanggap dalam memperbaiki hal-hal yang perlu) ; I adalah independent ( tanpa konflik kepentingan) dan F adalah fair ( jujur) . Apakah pengelolaan dana abadi GKJW mencerminkan prinsip-prinsip tersebut? Hal ini tak dapat dilepaskan dari praktik pengelolaan keuangan suatu organisasi. Sekali lagi, dana abadi ini hanya satu dari sekian banyak ekuitas yang dimiliki GKJW. Kasus yang telah muncul, sebenarnya mencerminkan pentingnya memotret tata kelola organisasi ini secara keseluruhan. Pertama, tentunya soal transparansi. Pengelolaan kekayaan gereja itu memerlukan keterbukaan. Selama ini, mekanisme pertanggungjawaban dari pengelolaan aset selalu dilakukan dalam Laporan Keuangan pada forum internal khususnya antara PHMA dan Pelayan Harian Majelis Daerah ( PHMD) . Saya berpendapat, pertanggungjawaban semacam ini minimalis sekali dalam ukuran gereja sebesar GKJW. Contohnya, akan sia-sia membela diri bahwa gereja telah menjalankan sesuatu dengan jujur, apabila tak ada akses informasi ke jemaat-jemaat, yang sebenarnya merupakan sendi pokok gereja. Akan lebih baik jika laporan yang disampaikan ini dapat diakses secara selektif oleh jemaat, baik dengan mekanisme secara langsung ( publikasi laporan di situs misalnya) atau tidak langsung melalui penunjukan suatu komite yang mewakili jemaat dan terpilih secara demokratis sebagai quality assurance dari pelaporan. Kedua, mengenai akuntabilitas. Ini memang soal kepercayaan. Bagaimana cara agar asset gereja, khususnya dalam bentuk ekuitas, bisa dipercaya pengelolaannya oleh umat. Ini barangkali kelemahan dalam suatu sistem sinodial yang dianut oleh gereja: ketika urusan dogmatis gereja yang tersentralisasi menjadi juga cara mengelola aset gereja. Alhasil, umat tak memiliki akses untuk memahami bagaimana pengelolaan aset gereja dilakukan. Marilah kita berprasangka baik. Gereja mestinya diurus oleh orang baik. Saya pun meyakini demikian. Namun, bila kita berkaca dari persoalan yang muncul, maka seyogianya perlu dipikirkan bagaimana kepercayaan ini dapat dijamin. PHMA harus bisa membangun mekanisme untuk membangun kepercayaan. Saran saya: tunjuk auditor eksternal untuk teratur memeriksa keuangan gereja. Tugas auditor ini harus dipisahkan dari tugas komisi yang mengawasi perbendaharaan gereja. Kedua, bentuk suatu komite yang dipilih secara demokratis untuk menerima laporan pengelolaan asset, guna memberi saran pada PHMA dalam pengelolaan kekayaan gereja. Selain itu, perlu juga dibentuk sistem prosedur untuk menjamin pengendalian fraud. Hal-hal ini menurut saya, dapat membangun kepercayaan, lebih baik dari saat ini. Ketiga, responsible. Ini artinya perlu ada upaya bertanggung jawab secara berjenjang dalam mengelola keuangan. Keuangan gereja bukan rahasia iman. Oleh karena prinsip pengelolaan kekayaan duniawi jelas memerlukan sifat tanggap terhadap kesalahan dan upaya perbaikannya. Kita masih hidup di dunia, dan kita memerlukan pengelolaan aset/kekayaan gereja yang bertanggungjawab: ini kemestian untuk tetap bertahan. Ada pendapat: niat semua orang di dalam wadah gereja adalah melayani, sehingga seharus organisasi gereja berjalan baik bila orang takut akan Tuhan. Faktanya tidak demikian. Sengkarut berbagai gereja di dunia sebenarnya petunjuk governance itu penting. Pemisahan antara fungsi pastoral/teologis dengan peran manajerial harus ada. Tidak bisa orang yang tak punya kompetensi manajerial disuruh memimpin administrasi. Begitu bahasa sederhananya. Ini membawa kita kepada prinsip keempat, independen. Sewajarnya dilakukan pemisahan peran dalam proses pengelolaan aset. Organisasi gereja, walau merupakan suatu kesatuan rohani, tetap harus dikelola secara independen antar fungsi, sehingga masing-masing unsur tidak saling mendominasi dan tiada proses yang berjalan tanpa check and balance oleh pihak lain. Persoalan independensi ini sebenarnya tampak dalam pengelolaan dana abadi: kelemahan literasi diperburuk oleh tiadanya kontrol dalam penempatan dana. Kewenangan pengelolaan dana jumbuh dengan sistem administrasi umum gerejawi. Semestinya ada mekanisme dalam berbagai proses yang menyangkut keuangan. Akhirnya, hal kelima adalah: fairness. Gereja harus senantiasa memperhatikan kepentingan umat dan pemangku kepentingan lainnya berdasarkan asas kewajaran dan kesetaraan. Tidak bisa mengandalkan hanya pendeta sebagai penanggungjawab seluruh proses administrasi. Jika diamati, perubahan susunan kepengurusan PHMA dari periode pertama ( 1937) hingga kini, menunjukkan peran pendeta yang semakin sentral dalam pengurusan gereja. Umat sebenarnya juga memiliki potensi dan dedikasi. Jadi, suara jemaat melalui PHMD beserta segenap kekuatan umat yang ada, juga merupakan kekayaan dari GKJW secara organisatoris. Perlu dipertimbangkan ke depan untuk tidak saja membangun teologi, namun cara berorganisasi, agar gereja benar-benar mampu menjadi contoh dalam tata laksananya. Saya bisa memahami, dengan adanya defisit anggaran pada PHMA akan berdampak makin gencarnya upaya membangun sumber dana lain. Ini sebenarnya konsekuensi dari perluasan dan penambahan jemaat. Namun tentu saja, dalam urusan pendanaan harus ada strategi lain yang dibangun. Bersusah-susah sedikit juga penting, cost cutting dan mengurangi program-program yang bersifat entertainment secara organisasi, barangkali akan lebih membantu. Sejarah GKJW adalah gereja penyintas. Melampaui masa penjajahan Jepang, masa revolusi kemerdekaan, periode demokrasi terpimpin, hingga pertengkaran ideologi pada masa klimaterik berdirinya Orde Baru. Tidak sedikit korban jiwa dan harta dari umat Kristen Jawa. Selain persekusi dan keterpencilan. Sepanjang Masa Reformasi hingga kini, gereja ini berjuang untuk bertahan, menghadapi intoleransi yang masih berkeliaran. Oleh karena itu, setidaknya demi sejarah, jangan sampai dia retak karena persoalan kepemimpinan dan tata kelola. Tidak ada yang mau menumbalkan pamong semacam Gareng, atau menjadi Sri Kresna yang memilih siasat Aupukul sembunyi tanganAy dengan menyuruh Baladewa menghadapi Kurawa. Asset gereja bukan serupa Drupadi istri Yudistira, atau putri dari Duryudana yang disayembarakan. Bagi saya: umat ibarat Gatotkaca, memikul Pergiwa di bahunya. Pergiwa adalah organisasi gereja. Adapun kecantikan dan perhiasan yang dikenakan adalah kekayaan lembaganya. Jangan Pergiwa dibebaskan memilih partner bisnis sendiri. Malang 07/05/2021 #katresnangkjw ( image) Baca selanjutnya: 1 Ae Mburu Uceng Kelangan Deleg 2 Ae Bagong Tumbal 3 Ae Literasi Finansial Dalam Pengelolaan Dana Abadi 4 Ae Pada Suatu Ketika... 5 Ae Hempaskan Say...

    1. 12 Jun 2022
  • Mburu Uceng Kelangan Deleg Artikel Gerakan Warga GKJW gkjw
    Mburu Uceng Kelangan Deleg, Artikel, Gerakan Warga GKJW, gkjw.org

    Kehilangan sesuatu yang lebih berharga karena mengejar sesuatu yang remeh. Ibarat memburu ikan kecil ( uceng) sehingga kehilangan yang lebih besar ( ikan gabus) . Alkisah, hal ini juga pernah dialami kerabat Pandawa. Terbilang Sri Kresna, penasehat bijak dari trah Pandawa yang memiliki seorang putra bernama Samba. Putra dari Kresna ini jatuh cinta pada putri Duryudana Aekakak tertua Kurawa. Adapun Duryudana, hendak memilih menantu melalui sebuah sayembara. Putri yang cantik ini adalah aset unggulan keluarga Kurawa, maka pantaslah mendapat suami terbaik di dunia. Istilah modernnya Auhigh investment, high return.Ay Sayangnya, Samba tidak mau ikut sayembara, ia ingin cepat kawin, sehingga memutuskan untuk menculik putri Duryudana ini. Tentu saja penculikan itu diketahui, para Kurawa merasa marah. Para ksatria dan guru tangguh dikerahkan, di antaranya Karna, Bisma, dan Durna. Tanpa kesulitan mereka berhasil menangkap Samba, yang lalu dipenjarakan. Pemenjaraan Samba ini menimbulkan masalah politik. Kresna yang berasal dari Trah Yadawa meminta tolong kerabatnya membebaskan Samba dari sekapan Kurawa. Oleh karena Trah Yadawa dan Kurawa masih berkerabat, maka diutuslah Baladewa Aesalah satu pemimpin YadawaAe untuk menyelesaikan masalah. Baladewa memilih jalan damai, semacam penundaan kewajiban, yang merupakan pendekatan secara kekeluargaan. Ia pun pergi ke Hastinapura Aepusat pemerintahan para Kurawa. Sayangnya, sesampainya di Hastinapura, proposal dari Baladewa agar Samba dibebaskan ditolak mentah-mentah oleh Kurawa. AuKami sudah bikin tim investigasi sendiri! Ay seru Kurawa. " Samba bersalah, kita akan proses sesuai tata Kurawa." Bahkan, mereka berkata para Yadawa berasal dari golongan yang lebih rendah, dan tidak pantas memerintah para Kurawa, bagaikan pelayan memerintah majikannya. Hal itu membuat Baladewa marah. Ia mengeluarkan sebuah senjata bajak yang selalu dibawanya, pemberian Batara Guru. Ia mengungkit pondasi Kota Hastinapura untuk melemparkannya ke Sungai Gangga. Begitu ibukota diungkit pakai bajak tadi, sadarlah Kurawa kotanya akan ditenggelamkan, mereka pun segera meminta maaf kepada Baladewa. Baladewa meletakkan kota Hastinapura di posisinya semula, namun agak miring. Akhirnya Samba dibebaskan dan pernikahannya direstui. Sebagai penyelesaian perkara, Duryudana juga memberikan 60.000 gajah, 1.200 kuda, 60.000 kereta, dan 1000 pelayan wanita, demikian Kitab Mahabarata mencatat. Ibarat pepatah Jawa, Kurawa mengalami Aumburu uceng kelangan deleg.Ay Maksud hati mendapat high investment dari kecantikan anak putri Duryudana, malah harus membayar upaya perdamaian yang mahal. Demikian, nafsu manusia bisa menyesatkan. Malang, 05/05/2021 #katresnangkjw Keterangan foto: Baladewa ( kanan) dan Sri Kresna ( kiri) ( image) Baca selanjutnya: 1 Ae Tata Kelola Yang Baik Sebagai Sumber Kepercayaan Organisasi 2 Ae Bagong Tumbal 3 Ae Literasi Finansial Dalam Pengelolaan Dana Abadi 4 Ae Pada Suatu Ketika... 5 Ae Hempaskan Say...

    1. 12 Jun 2022
  • Literasi Finansial Dalam Pengelolaan Dana Abadi Artikel Gerakan Warga GKJW gkjw
  • Pada Suatu KetikaA Artikel Gerakan Warga GKJW gkjw GKJW Feeds
    Pada Suatu KetikaA, Artikel, Gerakan Warga GKJW, gkjw.org

    Penelitian secara medis menunjukkan, menyanyikan lagu-lagu rohani memiliki efek psikoterapi yang khas secara neurofisiologis. Analisis oleh Gao et al. ( 2019) menemukan, selama kita menyanyikan suatu pujian rohani, ada bagian endogen dari otak mengalami perubahan kimiawi secara regional yang diakibatkan munculnya osilasi ( gelombang) delta. Bahasa ilmiah ini kalau mau disederhanakan kira-kira begini bunyinya: menyanyikan lagu ( pujian) rohani bikin otak kita menciptakan rasa nyaman, menurunkan tingkat ketegangan dengan melepas produk kimiawi yang menyebabkan hati jadi tenteram, menurunkan denyut jantung dan melandai pernafasan. Jadi, menyanyikan lagu rohani, atau mengulang pujian-pujian, memiliki efek terapeutik. Ini sebenarnya disadari hampir semua agama besar di dunia. Aliran kabbalistik bagi penganut agama Yahudi, dan sufisme Islam yang dipengaruhi budaya Persia di Timur Tengah, memakai lagu puji-pujian untuk mempersiapkan kondisi trance. Demikian pula kebiasaan menyanyikan pujian rohani juga dianut para pembaca vedik di India, atau parita dalam tradisi Buddhisme, sebagai pengantar menuju meditasi yang mendalam. Jangan khawatir. Orang Jawa pun mengenal tradisi menyanyikan pujian rohani. Berbagai tembang sebagai bentuk turunan dari metrum Jawa, dipakai untuk mengajar, mendidik, menumbuhkan rasa tenang dan mendekatkan diri dengan AuSang Maha Pencipta.Ay Konon pada suatu masa, kekristenan Jawa pernah memakai tembang yang merupakan bentuk tradisional dari pujian rohani sebagai sarana kontemplasi. Para perintis kekristenan di Jawa Timur, seperti Kiai Tunggulwulung, Bau Aris Wiryoguno, Paulus Tosari, bahkan Abisai Ditotruno, memakai tembang sebagai media menemukan kedamaian ( bersama Tuhan) . Salah satu tembang yang kerap dipakai, setidaknya sampai akhir 1950-an adalah Rasa Sejati. Tembang ini digubah Paulus Tosari setelah beliau berguru " elmu ng-Isa Rohullah" pada Sunan Kulon, alias Tuwan Kolem, alias Coenrad Laurentz Coolen di Ngoro, sekitar tahun 1830. Pujian dalam wujud tembang -menurut saya- adalah salah satu penciptaan tradisi kekristenan masa silam. Produk ini sangat ampuh dan merupakan salah satu prestasi budaya di jemaat kristiani-jawa saat itu. Memang sih, pada masa itu para pendahulu kita belum risau akan cengkeraman kapitalisme atas kepengurusan suatu gereja. Belum ada dana abadi, belum ada birokrasi gereja. Mereka lebih risau babi hutan merusak kebun salak. Mungkin saja demikian. Kalau hari ini kita lebih risau dengan untung-rugi dan machtsvorming ( pembentukan kekuasaan) di dalam gereja, maka itu soal panggilan zaman. Entah lagi kalau soal untung-rugi dan machtsvorming itu justru mengelabui kita sehingga tak sadar surutnya daya rohani gereja ini. Semoga saja tidak. Lha wong genetika gereja kita ini lho sebagai penyintas. Kadang-kadang selamat, kadang-kadang kandas. Sesekali Kidung Pasamuwan, selebihnya Happy Asmara dari Kediri Selatan. Asyik tok A Tak apa. Kita sruput dulu teh pahit ini. Malang, 21/06/2021 #katresnangkjw ( image) Baca selanjutnya: 1 Ae Tata Kelola Yang Baik Sebagai Sumber Kepercayaan Organisasi 2 Ae Mburu Uceng Kelangan Deleg 3 Ae Bagong Tumbal 4 Ae Literasi Finansial Dalam Pengelolaan Dana Abadi 5 Ae Hempaskan Say...

    1. 12 Jun 2022
  • Hempaskan SayA Artikel Gerakan Warga GKJW gkjw
    Hempaskan SayA, Artikel, Gerakan Warga GKJW, gkjw.org

    Sebulan lebih keramaian di grup Fb GREJA KRISTEN JAWI WETAN ( GKJW) ini. Diawali gelombang kejut bernama dana talenta abadi yang terkena masalah dalam pengelolaan, keriuhan lantas berkembang kemana-mana. Ada kritik, ada pembelaan. Ada motivator, ada komentator. Ada yang garis keras, ada yang garis lucu. Saya tidak akan posting soal salah kelola dana talenta abadi. Sebab buat saya urusannya jelas: ada pelanggaran prosedur, kecerobohan dan kemiskinan pemahaman di tangan pengelolanya. Bila beda pendapat dengan saya soal itu, tak masalah, sila gelar data lantas berdiskusi. Sekali ini saya justru kangen dengan mendiang Mochtar Lubis. Sastrawan cum aktivis sosial ini menulis dengan baik soal manusia Indonesia. Ya, manusia Indonesia. Seperti saya dan kita semua di grup Facebook yang mulia ini. Ada enam hal yang ia kritik terkait manusia Indonesia. Mungkin kritiknya terdengar pedas. Orang Indonesia dianggap tak mau bertanggungjawab, suka mengelak dan senang tahayul. Walau demikian, ada juga sisi positif, yakni mereka artistik dan suka harmoni. Semoga saja warga GKJW tidak termasuk dalam kelompok dengan kekurangan karakter semacam itu. ( image) Baca selanjutnya: 1 Ae Tata Kelola Yang Baik Sebagai Sumber Kepercayaan Organisasi 2 Ae Mburu Uceng Kelangan Deleg 3 Ae Bagong Tumbal 4 Ae Literasi Finansial Dalam Pengelolaan Dana Abadi 5 Ae Pada Suatu Ketika...

    1. 12 Jun 2022
  • Bukan Hantu Dalam Komedi Artikel Gerakan Warga GKJW gkjw
    Bukan Hantu Dalam Komedi, Artikel, Gerakan Warga GKJW, gkjw.org

    AuSelagi menunggu Pak Hashim datang, Bapak dan Ibu bisa mengemasi barang di kamar masing-masing karena memang sudah waktunya check out, Ay ujar Ketua Umum Majelis Agung Greja Kristen Jawi Wetan ( MA GKJW) . Sontak ruangan persidangan Sidang MA GKJW di ballroom Hotel Surya, Batu, menjadi heboh. Sebagian panitia sibuk membenahi setting tempat duduk, merapikan dekorasi dan menyiapkan cinderamata untuk menyambut Hashim Djojohadikusumo. Hari itu, Senin Legi 7 Juli 2008, pengusaha nasional dan adik kandung dari Calon Wakil Presiden pada Pemilihan Presiden RI tahun 2009 itu khusus datang ke Sidang MA GKJW guna menyerahkan bantuan uang asing senilai Rp 13, 68 miliar. Sidang MA GKJW ke 99 itu adalah sebuah babak yang penting dalam sejarah GKJW. Kekurangan dana yang selama ini selalu menghantui GKJW, seakan menemukan titik cerah dengan bantuan tersebut. Bantuan ini tak lepas dari peran seorang pendeta GKJW yang ditugaskan sebagai pengajar di Fakultas Teologi Universitas Kristen Duta Wacana ( UKDW) . Ia membantu mendekatkan PHMA GKJW dengan pengusaha nasional yang juga menjadi penyantun UKDW, sehingga berbuah ke sumbangan ini. Lobby intensif dari Ketua MA GKJW, Sekretaris Umum dan Bendahara Umum PHMA GKJW pun dilancarkan, akhirnya berbuah bantuan yang menjadi Dana Talenta Abadi ( DTA) II dalam perbendaharaan GKJW. Agar bisa berkembang baik, DTA II ini dikelola sebuah tim yang terbagi dalam tiga sub tim. Sub tim pertama disebut para penggalang, beranggotakan adik ipar dari Hashim Djojohadikusumo dan Bendahara Umum PHMA GKJW saat itu. Sub tim kedua, disebut pengembang, beranggotakan antara lain Sekretaris Umum PHMA GKJW. Sub tim ketiga, berisikan para pengawas, antara lain beranggotakan isteri mendiang Pdt Wismoady Wahono. Sampai tahun 2013, tim ini masih berjalan sebagaimana niat awal. Ada yang menjadi pengelola, ada yang menjadi pengawas dan ada yang berperan sebagai penggalang. Entah dengan dalih apa, pada kepengurusan PHMA periode 2013-2016, tim ini disederhanakan, dan diringkas menjadi beberapa orang yang hanya menangani pengembangan. Kursi sebagai tim pengembang ini diisi para elite, selain seorang pengusaha asal Malang, beberapa mantan pengurus PHMA dan Sekretaris Umum PHMA. Tim pengembang yang sudah diringkas ini ternyata diberi tugas ekstra: menambah defisit keuangan PHMA dengan memutar uang yang menjadi perbendaharaan gereja. Sejak 2013 sampai 2021 ini, pengelolaan DTA II kemudian diserahkan secara bergantian pada segelintir orang di dalam tim pengembang ini -sayang sekali- tanpa ada pengawasan dan pemantauan dari pihak lain. Padahal, sesuai Surat Keputusan PHMA tahun 2008, sudah diatur tata tertib pengelolaan keuangan DTA II. Tampaknya kedudukan dari pengurus inti ini lebih ke arah praktisnya pengelolaan, mengingat dalam sistematik organisasi kedudukannya strategis karena mewakili PHMA dalam berbagai kerjasama. Tim pengembang versi baru ini memang punya pola: selalu ada unsur inti PHMA dan elite kepercayaan PHMA. Cuma sayangnya, tim ini minim pengawasan. Baik, kita abaikan dulu soal literasi keuangan, karena tim pengembang ini berjalan sebisanya menurut pengalaman mereka. Kadang-kadang juga sembrono, seperti halnya sebagian besar dokumen investasi yang bermasalah -konon- ditandatangani secara individual oleh pejabat PHMA GKJW. Pada awalnya pengembangan DTA II ditetapkan harus secara konvensional, dengan menempatkan uang hanya di bank nasional yang sahamnya dimiliki Negara, namun sejak 2013, keberanian berinvestasi kian meningkat. Mungkin mengikuti kekhawatiran defisit yang senantiasa menghantui benak PHMA GKJW. DTA II tak hanya disimpan sebagai dana abadi, yang seharusnya berbentuk kas dan setara kas, malah diajak rekreasi menjadi investasi lain-lain. Tak heran, tetiba saja uang dari DTA II tadi dipinjamkan ke PT BAUM. Perseroan terbatas ini semacam punya bisnis Aupalu gadaAy alias Auape lu mau, gua ada.Ay Mulai menyewakan mobil, mengelola rumah khalwat, sampai membuka toko. Modal kerja PT BAUM ini disuntik PHMA melalui DTA II. Bagaimana proposal bisnisnya, tak ada yang paham. Jumlah suntikannya tak banyak, AucumaAy Rp 1, 5 miliar saja. Sayangnya tak bisa dilunasi hingga kini. Direksinya tak pernah mencatatkan neraca ke dalam Laporan Keuangan PHMA. Toh demikian, kejadian ini tak sendirian saja. Sebab, pada tahun 2015-2016, tim pengembang bahkan memutuskan untuk melakukan investasi dalam bentuk rumah kos di Malang. Dana sebesar Rp 4, 4 M pun ditanamkan. Cukup besar, hampir 30% nilainya dari DTA II saat itu. Padahal, konon ada aturan yang dibikin tahun 2008, di mana hanya 20% dari DTA II boleh diinvestasikan. Agaknya, pesan ini dilupakan. Selanjutnya, kita semua paham terjadi sengkarut DTA II. Semua terkuak gara-gara mulai tahun 2019 tim pengembang kian lancung melakukan investasi di berbagai usaha yang berisiko. Menanamkan uang di koperasi simpan pinjam dan perusahaan pasar uang. Deposito di perbankan nasional dikurangi dan uangnya dipindahkan beramai-ramai ke berbagai usaha dengan high yield namun risiko tinggi juga. Lantas, terjadi krisis akibat wabah Corona-Virus ( CoVid) 2019 pada awal tahun 2020. Sektor keuangan yang penuh spekulasi semacam permainan pasar uang dan koperasi simpan pinjam berbunga tinggi, langsung terkapar. Bisnis yang sudah berisiko sejak awal, langsung saja menggelepar. Hasilnya, adalah apa yang kita lihat hari ini. DTA II sebesar Rp 8, 9 M terkunci dalam PKPU dan sulit dipulihkan dalam waktu dekat, kalau tak mau dikatakan hilang bila perusahaannya pailit. Namun ada hal lebih besar di luar dana Rp 8, 9 M yang terkunci ini. Hal yang lebih besar ini adalah: minimnya transparansi dan akuntabilitas. Inilah hantu sebenarnya. Bukan sekadar hantu dalam komedi Srimulat yang tampil saban minggu di TVRI Surabaya semasa saya masih kecil. Ini hantu yang Aucore of the core.Ay Ini juga penyebab semakin berkurangnya kepercayaan ( trust) dari jemaat-jemaat kepada manajemen gereja. Kalau kita kembali ke Sidang MA ke 99 di Batu pada 2008, saat itu ada kasus yang seharusnya diambil hikmahnya oleh manajemen gereja. Sidang MA mempermasalahkan hilangnya Rp 140 juta dari kegiatan Pemberdayaan Ekonomi Warga ( PEW) . Majalah Duta ( Edisi 7/2008) mengutip penjelasan Bendahara Umum PHMA saat itu, AuMengenai PEW, PHMA sudah berusaha mencari berkas-berkas dan ternyata berkas itu tak ada. Menurut informasi lisan, berkas itu dibawa anggota PHMA yang lama. Berkas tersebut mungkin sudah ikut terbakar.Ay Penjelasan ini jadi mirip adegan komedi, namun tidak lucu juga. Nilai Rp 140 juta saat itu tentu sudah besar saat itu. Ajaib, datanya hilang dibawa mantan PHMA. Sekarang ini pun keteledoran semacam itu masih terjadi. Tapi beda angka, malah lebih besar. Intinya sama: kurang berhati-hati dan amanah. Sudah terlalu lama, GKJW membiarkan tata kelola keuangannya berjalan secara auto pilot. Entah macam apa kerja Komisi Pengawasan Perbendaharaan ( KP2) MA, para komisaris di perseroan milik GKJW dan pengawas di yayasan-yayasan di bawah GKJW. Nah, sekarang kita maju ke masa kini. Sidang PHMA GKJW pada 13-15 Agustus 2021 di Grand Palace Hotel Malang, mengangkat persoalan tata kelola ini. Sayangnya, sebagian besar anggota sidang dari Majelis Daerah yang terhormat, tak paham soal tingkat keparahan dari sistem pelaporan keuangan saat ini. PHMA tidak punya laporan keuangan sebenarnya. Dokumen yang dipakai sidang itu cuma laporan kas. Mirip catatan di warung. Tidak ada hitungan rekonsiliasi pendapatan dan beban, tidak ada neraca sama sekali. Bahasa lugasnya, kalau ditanya berapa aset milik MA hari ini, tidak ada yang tahu. Kalau ditanya seberapa defisit arus kas MA hari ini, tidak ada yang tahu. Kalau ditanya, beberapa perputaran uang yayasan di bawah MA, tidak ada yang tahu. Seharusnya ada audit dari sisi keuangan oleh pihak eksternal yang dimintakan MA terhadap PHMA, agar apa yang bisa diketahui dan diperbaiki. Tapi memandang kepengurusan yang sejak 2013 hingga kini, masih terjerembab dalam kesalahan serupa, rasanya agak miris juga. Contohnya, masih ada rencana AubesarAy PHMA GKJW pada 2020 silam membuat sebuah perseroan terbatas, untuk mewadahi kerjasama dengan investor. Saya jadi ingat peristiwa kebangunan GKJW pada Agustus 1946. Saat itu dua kubu besar berekonsiliasi setelah terpecah pada zaman penjajahan Jepang. GKJW memang mengalami perpecahan saat itu. Sebabnya jelas, penindasan. Hari ini, memang tak ada penindasan. Tapi tetap saja, ketika ada problem GKJW belum memiliki metode penyelesaian yang konklusif. Seharusnya kita -yang peduli- turun tangan membantu GKJW. Ini bukan soal MA, atau suksesi, atau soal permainan, ini soal cinta kepada gereja kita. Ini bukan sekadar hantu dalam komedi. Sudahlah, kita seruput dulu teh pahit ini. Foto: Balewiyata Jalan Raya Sukun Malang ( 1937) ( image) Baca selanjutnya: 1 Ae Tata Kelola Yang Baik Sebagai Sumber Kepercayaan Organisasi 2 Ae Mburu Uceng Kelangan Deleg 3 Ae Bagong Tumbal 4 Ae Literasi Finansial Dalam Pengelolaan Dana Abadi 5 Ae Pada Suatu Ketika...

    1. 12 Jun 2022
  • Sembilan Puluh Tahun MA GKJW Menilik Dari Sejarah Artikel Gerakan Warga GKJW gkjw
    Sembilan Puluh Tahun MA GKJW: Menilik Dari Sejarah, Artikel, Gerakan Warga GKJW, gkjw.org

    Genap lima belas tahun silam, saya menulis sebuah artikel untuk buku Kenang-kenangan 75 Tahun Majelis Agung Greja Kristen Jawi Wetan ( MA GKJW) . Artikel itu dimulai dengan mengutip ayat yang berbunyi Ausira saka ing ngendi, lan paranira menyang ngendi? Ay ( dari manakah datangmu dan kemanakah pergimu? ) yang diambil dari Kitab Purwaning Dumadi 16:8b ( Kejadian 16:8b) . Kutipan ini terinspirasi manuskrip dari mendiang Pdt. Ismanoe Mestoko tentang sejarah umat kristiani-jawa. Ayat ini berisikan sebuah pertanyaan eksistensial tentang kita, sebagai GKJW, Audari manakah kita datang dan kemanakah kita pergi? Ay Pertanyaan ini mengandung pengertian yang bersifat asali. Mirip usaha epistemologis orang Jawa menemukan Ausangkan paranAy atau asal-tujuan kita. Jika GKJW merupakan wadah sinodial dari jemaat-jemaat Kristen tradisional di Jawa Timur, maka pertanyaan itu patut direnungkan kembali ketika MA GKJW berulangtahun ke 90, pada 11 Desember 2021 ini. Pendirian MA GKJW yang selalu dirayakan sebagai Aumula berdirinya GKJWAy sebenarnya hanya sebagian saja dari proses kekristenan di antara orang Jawa Timur. Kekristenan di antara orang Jawa Timur sudah berjalan lebih dari seabad sebelum MA GKJW didirikan. Jika hendak ditempatkan dalam situasi sosial-politik awal abad ke 20 Masehi maka pendirian MA tidak bisa dilepaskan dari dua dorongan besar. Dorongan itu adalah: ( 1) tumbuhnya nasionalisme di antara orang Indonesia; dan ( 2) munculnya krisis hubungan antara lembaga penginjilan dari Belanda dengan umat Kristen di Jawa. Awal dari MA sebenarnya apa yang disebut Konferensi Penginjil. Sejak tahun 1900, para penginjil dari Belanda sudah teratur bertemu. Seorang penginjil Eropa lazimnya memimpin sebuah wilayah disebut resort yang terdiri dari beberapa jemaat Kristen Jawa Setiap jemaat dipimpin oleh seorang Guru Injil didampingi para pemuka jemaat. Jika jemaat tersebut memiliki sekolah atau balai pengobatan maka ada tenaga pendidik ( guru) dan kesehatan ( mantri dan perawat) . Gaji untuk membayar Guru Injil, cetak-mencetak, biaya operasional dari balai pengobatan dan sekolah, dibantu oleh lembaga penginjilan dari Belanda. Pertemuan secara teratur ini umumnya membicarakan beberapa hal: keanggotaan jemaat dan personil yang melayani ( penginjil, Guru Injil pemuka jemaat dan pendidik) , persoalan keuangan dan peraturan-peraturan kehidupan berjemaat. Konferensi Penginjil ini secara bertahap dianggap sebagai wadah koordinasi tertinggi, atau semacam Aumajelis agungAy yang berperan dalam mengatur organisasi dari jemaat-jemaat Kristen Jawa. Sementara itu, dalam arus perkembangan nasionalisme yang menguat di Indonesia, khususnya setelah Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 1928, muncul kegelisahan di antara orang Kristen Jawa. Kegelisahan ini terkait identitas orang Kristen Jawa yang juga merasa sebagai bangsa Indonesia. Konferensi Penginjil mengamati perkembangan nasionalisme di antara orang Kristen Jawa. Mereka melihat orang Kristen di Jawa Timur juga AuberaniAy berorganisasi, mulai dari pembentukan Rencono Budijo ( 1898) , Mardi Pracoyo ( 1913) hingga Pakempalan Guru Christen ( 1923) . Dinamika ini lantas dikomunikasikan dengan Dr Hendrick Kraemer dari Nederland Bijbel Genootschap yang ditugaskan ke Indonesia untuk mendukung gerakan penginjilan di tengah arus nasionalisme. Kraemer melaksanakan survei ke Jawa Timur dan menemukan dari 29 pasamuwan atau jemaat Kristen Jawa pada tahun 1930 sebanyak 13 menghendaki kemandirian penuh dalam mengelola kehidupan berjemaat, 13 menginginkan sebagian wewenang saja dan hanya 3 saja yang ingin tetap tinggal dalam keadaannya saat ini. Berdasarkan pertemuan dengan berbagai tokoh jemaat Kristen Jawa, Kraemer menyakinkan perlunya membentuk suatu majelis yang mempersatukan jemaat-jemaat Kristen di Jawa Timur. Ini upaya meredam kegelisahan orang Kristen Jawa di tengah perubahan sosial-politik di Indonesia. Ia pun berkomunikasi secara intensif dengan konferensi para penginjil dan pengurus lembaga penginjilan di Belanda. Akhirnya, pada tahun 1931 disepakati menyatukan semua jemaat Kristen di Jawa Timur dengan nama Pasamuwan-pasamuwan Kristen Jawi ing Tanah Jawi Wetan. Nama ini menunjukkan bahwa gereja adalah sebuah kesatuan dari berbagai pasamuwan atau jemaat. Sebagai sebuah kesatuan, kedudukan semua pasamuwan adalah setara dan menyatu di dalam wadah MA yang didirikan kemudian. Koordinasi antar pasamuwan atau jemaat dilaksanakan melalui MA, berbeda dari Konferensi Penginjil yang semula merupakan wadah koordinasi tertinggi antar pembimbing jemaat Kristen Jawa. Kata pasamuwan atau jemaat disebut lebih dulu sebagai AusubyekAy ketimbang organisasi MA itu sendiri. Kesatuan ini diuraikan dengan sederhana dalam penjelasan: AuRengkuh-rinengkuhanipun pasamuwan satunggal-satunggal kaliyan majelis agung kados griya lan banonipun.Ay ( Hubungan menyatu antara masing-masing jemaat dengan majelis agung adalah serupa batu bata dengan bangunannya) . Pendirian MA ini dilakukan melalui sidang pertama pembentukan yang dilanjutkan dengan penetapan pengurus MA pada tanggal 11-12 Desember 1931 di Mojowarno, Jombang. Saat didirikan sebagai organisasi yang mempersatukan jemaat-jemaat, jumlah pasamuwan yang bergabung ada 45. Jumlah warga seluruhnya 11.891 orang dewasa dan 11.013 anak, dengan Guru Injil ( disebut juga Pendeta Jawa) yang diberi wewenang melayani sakramen sebanyak 30 orang dan 8 orang tanpa kewenangan melayani sakramen. Sebagai Pengurus MA yang pertama adalah Ketua C. W. Nortier, Sekretaris Mas Puger dan Bendahara M. Poertjojo Gadroen. Kedudukan Nortier adalah sebagai penginjil utusan Belanda untuk Jawa Timur, ia bukan pendeta. Sepanjang masa Belanda menjajah Indonesia, kepemimpinan MA diisi para penginjil Belanda secara bergantian. Sebagai pedoman dari gereja baru ini disusun dokumen berjudul Serat Tatanan Greja tumrap Pasamuwan-pasamuwan Kristen Jawi ing Tanah Jawi Wetan. Pedoman ini mengalami tiga kali perubahan, dengan dua dokumen perantara yang bersifat sementara. Setelah edisi pertama ( Mojowarno, Desember 1931) ada revisi kedua: Tata lan Pranatany Greja Kristen Jawa ing Jawa Wetan ( Swaru, November 1948) . Selanjutnya terdapat dua versi sementara ( Tatanan Juni 1967 yang ditetapkan di Surabaya dan Pranata November 1969 yang ditetapkan di Suwaru) , sebelum ditetapkan revisi ke tiga berjudul Serat Tata lan Pranatanipun Greja Kristen Jawi Wetan ( Malang, Januari 1970) . Perbaikan terakhir menghasilkan revisi ke empat, berjudul Tata dan Pranata Greja Kristen Jawi Wetan ( Malang, Juni 1996) . Sejarah singkat pendirian MA GKJW ini mengerucut pada sebuah kesimpulan: MA GKJW didirikan oleh karena lembaga penginjilan Eropa bermaksud mempertahankan peran mereka dalam membina jemaat-jemaat Kristen Jawa. Pendirian MA GKJW bertujuan menjadi wadah koordinasi dari jemaat-jemaat yang berkedudukan setara. Sampai saat ini pun kekuatan terbesar di belakang GKJW adalah jemaat-jemaat yang bersepakat menyatukan diri untuk membangun sinergi dalam menghadapi perubahan zaman. Setelah lembaga penginjilan Belanda angkat kaki dari Indonesia pada masa penjajahan Jepang, MA GKJW mengalami perpecahan, sedangkan jemaat-jemaat mengalami kesusahan dan siksaan tiada sedikit. Kesulitan ini menghasilkan perenungan bahwa kekuatan gereja ini bukanlah pada ketergantungan pendanaan atau teologi dari Belanda, tapi harus bersumber dari kekuatan jemaat sendiri. Dua kali GKJW diuji di alam kemerdekaan Indonesia. Pertama pada periode yang penuh tragedi saat terjadi perpindahan kekuasaan antara tahun 1965-1966; kemudian kedua, pada periode pra-reformasi dan reformasi tahun 1996-1999. Dalam pergumulan di kedua masa sulit ini GKJW belajar menemukan bahwa gereja itu memerlukan organisasi yang kukuh. Lantas, pada hari ini 11 Desember 2021, MA GKJW berulang tahun dengan tema yang menggelegar, AuMenyatakan Karya Allah dalam Kemandirian Bergereja.Ay Saya sepakat dengan tema ini dengan melihat sejarah di mana jemaat-jemaat ini menjadi bagian integral dari kekuatan GKJW. Oleh karena itu, untuk bisa mewujudkan tema ini secara nyata maka ada hal-hal yang harus benahi dalam organisasi MA GKJW. Pertama, kita harus berani melawan kecenderungan menjadikan organisasi gereja ini feodal. Pada awalnya MA GKJW memang didirikan dengan tujuan AumenjinakkanAy nasionalisme di antara umat Kristen Jawa. Sehingga melalui wadah ini tidak muncul benturan dengan penjajah Belanda. Walau demikian, melalui proses yang menyakitkan sepanjang masa 1942-1946 dan periode kritis lainnya, MA GKJW berhasil bertransformasi. Nah, dalam kerangka ini, penting untuk tidak membangun kultur dan hirarki AupriyayiAy dalam mengurus gereja. Sikap enggan menerima masukan, ketidakterbukaan dan perilaku status quo dapat menjadi antitesis terhadap tujuan MA GKJW sebagai persatuan jemaat-jemaat di Jawa Timur. Kedua, kita wajib menolak sikap enggan bertanggungjawab. Sastrawan Mochtar Lubis mengatakan, bangsa kita ini mudah untuk segan bertanggung jawab atas perbuatan, perkataan dan tindakan. MA GKJW harus menjadi organisasi pembelajar yang senantiasa melakukan perbaikan untuk maju. Seakan-akan menjadi AubudayaAy untuk mudah melupakan kesalahan. Lazim, bagi kita Aejuga sayaAe untuk bersikap pura-pura, lain di muka, lain di belakang, oleh karena adanya kekuatan-kekuatan dari luar yang mendorong kita menyembunyikan apa yang dipikirkan, dikehendaki atau dirasakan, oleh karena khawatir apabila itu diungkapkan akan timbul bencana daripadanya. Sikap enggan bertanggungjawab dan tidak terbuka ini merupakan ancaman bagi organisasi gereja kita. Bagaimana pun juga, sudah saatnya membangun kekuatan jemaat yang memiliki organisasi akuntabel dan terbuka. MA GKJW itu rumah besar kita, bukan milik sebagian pengurusnya saja. #gkjwkita #katresnangkjw ( image) Baca selanjutnya: 1 Ae Tata Kelola Yang Baik Sebagai Sumber Kepercayaan Organisasi 2 Ae Mburu Uceng Kelangan Deleg 3 Ae Bagong Tumbal 4 Ae Literasi Finansial Dalam Pengelolaan Dana Abadi 5 Ae Pada Suatu Ketika...

    1. 12 Jun 2022
  • Pemikiran Kontemporer GKJW Dan Alternative Earth Artikel Gerakan Warga GKJW gkjw
    Pemikiran Kontemporer GKJW Dan Alternative Earth, Artikel, Gerakan Warga GKJW, gkjw.org

    Ada antusiasme saya mengikuti peringatan ulang tahun Balewiyata ke 95 melalui seminar daring yang mengkaji pemikiran kontemporer dari para tokoh Greja Kristen Jawi Wetan ( GKJW) . Kebetulan para tokoh tadi adalah para rohaniawan yang pernah berperan bagi gereja di Jawa Timur ini, seperti Pdt. Tasdik, Pdt. Ardi Sujatno dan Pdt Dr. Wismoady Wahono. Semuanya sudah meninggal, jadi pembahasan tentang para tokoh ini sebenarnya semacam retrospeksi dari sudut pandang penerusnya. Uniknya, retrospeksi ini seluruhnya dibahas oleh para pendeta juga. Tidak ada pembicara dengan disiplin ilmu lain, selain filsafat keillahian, yang membahas pemikiran mereka. Tidak ada sosiolog, psikolog atau ahli humaniora lain yang menjadi pembahas. Tidak apa-apa juga. Barangkali yang bisa menafsirkan pemikiran mereka ya hanya para pendeta. Bicara soal ketokohan dalam sejarah, saya jadi ingat cerita silat yang dahulu kerap saya ikuti sampai membolos pelajaran. Cerita silat, baik yang ditulis oleh Kho Ping Hoo maupun pengarang lain, termasuk video Betamax silat klasik Tiongkok, seringkali memasukkan unsur sejarah kerap. Bukan hanya terkait suatu peristiwa sejarah namun juga tokoh yang benar-benar ada dalam sejarah. Namun, bagaimana seharusnya kita menyikapi hadirnya tokoh dan peristiwa sejarah dalam semacam cerita silat? Apa yang dipaparkan dalam cerita silat baik dalam bentuk novel atau video hanya rekaan dan khayalan, maka seharusnya kita membedakan peristiwa atau kejadian sebenarnya sebagaimana yang ditulis dalam sejarah. Artinya, dengan kata lain, apa yang diceritakan dalam novel sejarah atau cerita silat yang terkait dengan sejarah itu seharusnya dianggap terjadi pada Aubumi alternatifAy atau Ausemesta alternatif.Ay Cerita Legenda Pendekar Rajawali, atau The Legend of the Condor Heroes, yang beredar di Indonesia pada pertengahan tahun 1980-an dengan judul Pendekar Pemanah Rajawali ( Sia Tiauw Enghiong) , misalnya memaparkan bagaimana tokoh sejarah Genghis Khan berinteraksi dengan Kwee Ceng/Guo Jing. Genghis Khan bahkan menganggap Kwee Ceng sebagai anak angkat. Kwee Ceng juga mengenal beberapa pura Genghis Khan. Salah satu putri Genghis Khan bahkan naksir pada Kwee Ceng. Namun tentu saja jika Anda membaca biografi Genghis Khan, atau memeriksa catatan sejarah, Anda tidak akan menemukan nama Kwee Ceng. Sebab Kwee Ceng itu memang karakter fiksi yang diciptakan penulisnya, Jin Yong. Sejarah resmi Genghis Khan sama sekali tidak berhubungan dengan seorang lelaki bernama Kwee Ceng. Tapi apakah itu berarti kita bisa menyebut kalau Jin Yong itu sebagai sosok yang buta sejarah, karena berani-beraninya menceritakan tentang interaksi Genghis Khan dengan Kwee Ceng yang tak pernah terjadi? Tentu tidak. Interaksi antara Genghis Khan dan Kwee Ceng itu terjadi pada Aubumi alternatif.Ay Jika bumi tempat kita berada sekarang bisa disebut sebagai Auearth-primeAy maka kisah trilogi Rajawali itu katakanlah terjadi di Aualternative-earth.Ay Saya kira, ini prasangka saya saban mengikuti pembahasan biografis mengenai pemikiran tokoh dari masa silam yang terbatas karya tulis, jurnal atau memoir-nya. Kita selalu berangkat membangun personifikasi tokoh ini dari narasi-narasi tentang mendiang. Pemahaman kita tentang historisitas adalah narasi. Acapkali, narasi ini justru Aualternative-earthAy dari pemikiran kita sendiri yang diproyeksikan pada orang yang telah meninggal tadi. Kesejarahan GKJW ini memang menarik untuk dibahas. Sejarah masa silam gereja kita yang panjang, mendekati 200 tahun proses masuknya orang Jawa menjadi Srani Jawi adalah realitas. Jadi, membaca pemikiran dan pergumulan orang Jawa menjadi AukristenAy sebenarnya kita bicara soal GKJW dalam kerangka Auearth-prime.Ay Persoalannya adalah, apakah kita mampu melakukan eksegese terhadap pemikiran dan pergumulan orang Jawa di masa silam pada level Auearth-primeAy ini? Semoga saja, sebab teks yang menjadi corpus pemikiran para tokoh kristiani Jawa ini terbatas dan terserak. Sebagai perbandingan, selama 20 tahun saya mengumpulkan berbagai naskah dan cerita lisan mengenai kesejarahan orang Kristen Jawa, hanyalah menemukan serpih-serpih informasi yang mesti digali dan ditafsirkan secara hati-hati. Perlu kajian yang heuristik. Kini kita merayakan ulang tahun Balewiyata ke 95 dengan memeriksa kembali pemikiran dari beberapa tokoh kontemporer dalam sejarah GKJW. Sebagian pemikiran mereka dapat kita peroleh dan pelajari dari serpihan teks serta kesaksian dari yang pernah berinteraksi. Namun selalu ada godaan untuk membuat kisah fiksi di seputar ketokohan mereka. Kita ini ibaratnya gampang tergoda membangun semacam Aualternative-earthAy dengan memakai nama para tokoh historis. Bagi saya, membangun Aualternative earthAy dalam keseharian adalah tanda menguapnya pemikiran kritis atas GKJW yang kini didera berbagai persoalan manajerial. Sengkarut ini dan itu, mulai tersendatnya dana persekutuan sampai salah kelola talenta abadi, mulai buku kidung kontroversial sampai soal mark up dana pengurusan imigrasi. Sudah banyak contohnya. Barangkali, daripada capek memikirkan kesulitan riil organisasi gereja hari ini, kita memilih keluar dari Aureal earthAy kemudian beralih ke Aualternative-earth.Ay Dalam cerita komik, seorang remaja yang digigit laba-laba bisa mendapat kekuatan laba-laba dan menjadi manusia super. Di dunia nyata, hal seperti itu tak mungkin terjadi. Jadi jika kapan-kapan Anda digigit anjing atau kucing atau kaki seribu, jangan berharap Anda akan mewarisi kekuatan anjing, kucing atau kaki seribu, hehehe. Ah, mungkin saya saja yang cenderung cerewet. Tapi ya tak apalah, saya sruput saja teh pahit ini. Selamat ulang tahun Balewiyata. ( image) Baca selanjutnya: 1 Ae Tata Kelola Yang Baik Sebagai Sumber Kepercayaan Organisasi 2 Ae Mburu Uceng Kelangan Deleg 3 Ae Bagong Tumbal 4 Ae Literasi Finansial Dalam Pengelolaan Dana Abadi 5 Ae Pada Suatu Ketika...

    1. 12 Jun 2022
  • Balewiyata Dalam Perjalanan Waktu Catatan Ulang Tahun ke 95 Artikel Gerakan Warga GKJW gkjw GKJW Feeds
    Balewiyata Dalam Perjalanan Waktu: Catatan Ulang Tahun ke-95, Artikel, Gerakan Warga GKJW, gkjw.org

    Salah satu puncak perkembangan pendidikan di antara umat Kristen di Jawa Timur, adalah pendidikan teologi untuk menghasilkan rohaniawan. Perkembangan jemaat Kristen yang pesat menyebabkan sekitar tahun 1920 muncul kebutuhan menghasilkan tenaga pastoral Jawa. Inilah latar belakang pendirian sebuah lembaga pendidikan teologi yang dikenal sebagai Balewiyata. Pada tahun 1922, Nederlands Zending Genootschap ( NZG) mengutus Barend Martinus Schuurman menjadi guru bagi jemaat Kristen Jawa di wilayah Kediri, Jawa Timur. Namun, akibat kebutuhan mendidik rohaniawan di antara orang Jawa maka pada tahun 1925 NZG menugaskan Schuurman membuka pendidikan teologi 2 tahun di Kediri. Setelah melihat potensi di antara orang Jawa yang mampu menjadi guru agama dan membimbing jemaat sebagaimana layaknya pendeta, pendidikan teologi di Kediri pun ditingkatkan dan pada 6 Januari 1927 dipindahkan seluruhnya ke Malang dengan nama AuBalewiyataAy ( arti: tempat belajar) . Balewiyata dilahirkan dari suatu kebutuhan, yang mula-mula menyangkut penyiapan pendeta untuk melayani umat Kristen Jawa. Namun urusan ini berkembang, sebab ada perbedaan budaya antara umat Kristen Jawa dan kaum kristiani di Gereja Hindia. Balewiyata sebenarnya hadir sebagai jawaban atas persoalan mendasar suatu gereja berbasis etnis: membangun dengan pemahaman teologis secara kontekstual yang sekaligus merupakan sebuah tindakan strategis bagi umat Kristen Jawa. Sekolah ini disponsori persekutuan penginjilan Gereja Belanda ( Zending de Nederlandsche Hervormde Kerk) , praktis bertujuan mendidik calon pendeta dari suku Jawa untuk mengisi kekurangan gembala di jemaat-jemaat. Kurikulum dari pendidikan teologi di Balewiyata cukup lengkap, tersusun dalam empat tingkat perkuliahan. Tahun pertama: sejarah dunia, sejarah Indonesia, sastra Jawa dan Belanda, sejarah Alkitab dan pengantar ilmu Alkitab, filsafat umum dan ilmu retorika. Tahun kedua dan ketiga: kanonik gerejawi, dogmatika kekristenan, sejarah gereja, sejarah Alkitab ( lanjutan) , tafsir Alkitab, Islamologi, sejarah Jawa, pengetahuan umum, ilmu pastoral, ilmu pengajaran agama dan Bahasa Belanda. Tahun ke empat: administrasi gereja, ilmu pendidikan ( pedagogi) dan praktek pastoral. Pada tahun 1930, Schuurman mengambil cuti dari Balewiyata dan berangkat Zyrich, Swis untuk menempuh pendidikan tingkat doktoral di bidang teologi serta filsafat. Ia menyelesaikan pendidikan pada tahun 1933 dengan disertasi mengenai mistisme. Ia kembali ke Balewiyata sebagai salah seorang pengajar. Dalam perjalanannya, Balewiyata tak sekadar menjadi sekolah pendeta Jawa. Malah pada zaman pra hingga kemerdekaan, lembaga ini bertindak sebagai semacam tempat asah para pemikir Kristen lintas suku. Walau pada awal berdiri hanya memiliki dua orang tenaga pengajar tetap yakni Nortier dan Schuurman, alumni yang dihasilkan adalah Aupemikir-pejuang.Ay Salah satunya adalah peran alumni Balewiyata di balik penyatuan jemaat-jemaat Kristen Jawa menjadi GKJW. Lulusan Balewiyata dikenang sebagai bapak GKJW seperti Pdt. Driyo Mestoko, Pdt. Wiryotanoyo, Pdt. Mardjo Sir dan Pdt. Noersaid Setjo. Apalagi sejak dipayungi suatu kuratorium yang bertindak sebagai Auyayasan penyantunAy, sekolah ini malah menjangkau pendidikan pendeta bagi gereja-gereja lain. Angkatan ketiga Sekolah Teologi Balewiyata misalnya, 1937, mencatat 5 siswa Kristen Bali, yang merupakan hasil pekabaran Injil Greja Kristen Jawi Wetan ( GKJW) di Bali. Mereka menjadi pendeta putra daerah di Gereja Kristen Protestan Bali ( GKPB) . Nasib suram justru diderita ketika bala tentara Dai Nippon mendongkel Belanda dari Indonesia tahun 1942. Sekolah ditutup. Para pengasuh ditawan, bahkan Schuurman ditahan sampai wafat pada 6 Juli 1945 di Penjara Lowokwaru, Malang. Sementara Mardjo Sir, anggota kuratorium dari GKJW, ikut ditawan sampai 1945. Inventaris Balewiyata mulai meja kursi, buku-buku dan gamelan, ludes dijarah sehingga tertinggal hanya dua buah lemari besar dan sebuah meja. Bahkan pintu dan jendela pun diambil kayunya. Nasib Balewiyata membaik setelah kemerdekaan Indonesia. Berdirinya negeri ini berdampak pada kebutuhan pengajaran teologis yang mandiri. Sidang MA GKJW ke 20 di Mojowarno, Agustus 1946, memutuskan untuk membuka kembali Sekolah Teologi Balewiyata. Semula sekolah ini hendak dipindah ke Mojowarno, namun karena kekurangan fasilitas terpaksa niat tadi diurungkan. Ditunjuklah Pdt. Saptojo Joedokoesomo, Pdt. Driyo Mestoko dan Pdt. Tasdik sebagai dosen. Baru pada Maret 1948, Sekolah ini buka kembali di tempat asalnya, Jalan Sukun Nomor 18 ( kini Jalan Shudanco Supriadi Nomor 18) di Malang. Jumlah angkatan pertama zaman Republik Indonesia ini ada 17 orang. Lama bersekolah pun dibagi dua: mereka yang mampu menjadi pendeta disediakan program komplit selama 4 tahun; dan buat mereka yang tidak mampu, disediakan kursus 2 tahun untuk mencetak tenaga Guru Injil. Guna menambah tenaga pengajar, GKJW bekerja sama dengan Gredja Tionghwa Kie Tok Kauw Hwe ( kini GKI Jatim) yang mengirim Pdt. Hwan Ting Kiong sebagai dosen. Perjalanan selanjutnya bisa disebut masa keemasan Balewiyata. Sejak tahun 1950, Balewiyata dikenal sebagai Sekolah Teologia dan jangkauannya pun semakin luas. Gereja Kristen Jawa Tengah Utara ( GKJTU) mengirim siswa, kemudian menyusul Gereja Kristen Sekitar Muria ( GKSM) , Gereja Kristen Pasundan ( GKP) , Gereja Kristen Indonesia ( GKI) Jabar, Jateng dan Jatim. Tak pelak, Balewiyata segera menjadi rujukan karena mampu memberi pendidikan teologia berbobot. Tenaga pengajar yang terkenal adalah Dr. Phillip van Akkeren, Pdt. Soesilo Djojosoedarmo, Dr. Arie de Kuijper dan Pdt. Ardi Soejatno. Pada tahun 1955, dua sekolah teologi, milik GKSM ( Pati) dan GKI Jabar ( Bandung) , menggabungkan diri ke Balewiyata. Pengelolaan Balewiyata lantas diserahkan pada suatu kuratorium beranggotakan 5 gereja pendukung yakni: GKSM, GKI Jabar, GKI Jatim, GKP dan GKJW. Dari kerja keras konsorsium ini Balewiyata semakin berkembang. Walaupun demikian, di dalam tubuh konsorsium juga dirasakan berbagai kesulitan untuk terus menghidupi pendidikan tinggi tersebut. Salah satu alasan pokok adalah pendidikan di Balewiyata tidak bersifat komersial, sehingga sangat bergantung pada dana yang disediakan masing-masing gereja anggota konsorsium tersebut. Sidang MA GKJW di Malang tahun 1964 kemudian memutuskan untuk menghentikan kuratorium pengelola Balewiyata. Mulai tahun 1965, Balewiyata dikembalikan ke fungsi pada awal berdirinya: mendidik pendeta untuk keperluan internal GKJW. Semula sekolah teologia, Balewiyata kini direformasi jadi Institut Pembinaan Theologia ( IPTh) . Pdt. Tasdik lalu diangkat jadi Direktur. Sayang sekali hanya 3 angkatan saja yang merasakan sekolah Balewiyata, karena pada tahun 1967, diputuskan mereformasi sekali lagi mereformasi IPTh. Pada sidang MA GKJW di Madiun, 16 November 1972, dikeluarkan keputusan yang meneguhkan hasil sidang tahun sebelumnya di Malang yang menetapkan IPTh Balewiyata tidak dilanjutkan sebagai lembaga pendidikan teologi melainkan menjadi pusat pembinaan warga gereja. Pendidikan teologi untuk pendeta GKJW selanjutnya diserahkan ke Akademi Teologi Yogyakarta ( kini Fakultas Teologi Universitas Kristen Duta Wacana, Yogya) . Sampai di sini, berakhirlah suatu episode selama 48 tahun dari pendidikan tinggi teologi di lingkup GKJW. Tahun ini kita merayakan ulang tahun Balewiyata ke 95. Ada beberapa agenda, mulai webinar yang mengulas pemikiran beberapa tokoh yang pernah berperan dalam sejarah GKJW sampai agenda membuat beberapa buku Auteologi.Ay Namun tampaknya, ada godaan yang besar juga untuk membuat narasi berbau fiksi di seputar ketokohan dan AuteologiAy gereja kita. Seakan-akan membangun semacam Aualternative-earthAy terhadap eksistensi para tokoh historis dan wacana teologis GKJW. Ini barangkali persoalan di tengah menguapnya pemikiran kritis atas kelembagaan GKJW Aeyang hari-hari didera berbagai persoalan manajerial. Jadi ketimbang capek memikirkan hari ini, kita memilih keluar dulu dari Aureal earthAy kemudian beralih ke Aualternative-earth.Ay Daripada pusing tentang salah kelola dana talenta abadi, buku Aukidung kontroversial, Ay yayasan pendidikan yang merana, wacana bikin sekolah perawat, atau memberesi urusan AuremehAy semacam indikasi mark up biaya pengurusan imigrasi di kantor gereja, para pengurus di MA perlu jeda. Sedikit mencari narasi alternatif: bikin webinar, menghadirkan para pejabat atau malah meresmikan monumen. Saya pernah bilang kalau dalam cerita komik, seorang remaja yang digigit laba-laba bisa mendapat kekuatan laba-laba dan menjadi manusia super. Di dunia nyata, hal seperti itu tak mungkin terjadi. Jadi, dalam memperingati HUT Balewiyata kita perlu refleksi secara strategis: apa sebenarnya tugas besar dari lembaga ini? Jangan berharap bahwa kita akan digigit semacam laba-laba terus menjadi sakti. Saya percaya Balewiyata adalah sumber pengetahuan teologis dan pastoral GKJW yang akan menentukan masa depan gereja ini dalam pertarungan di tingkat Auearth-prime.Ay Sayang apabila dia disibukkan oleh narasi-narasi alternatif, atau repot dengan berbagai kisah-kisah Aualternative-earth.Ay Sibuk bikin diskursus, tapi lupa pakem. Sibuk dikaryakan, lantas hilang pemikiran kritisnya. GKJW ini salah satu gereja besar di Jawa Timur. Kita harus siap menghadapi musim dingin yang di dalam film Games of the Throne, melambangkan kebekuan pemikiran yang mencekam dan menggigilkan tulang. Ada banyak kelemahan di PHMA, yayasan dan perseroan di GKJW, janganlah itu menular menjadi semacam kanker ke Balewiyata. Selamat menikmati Bulan Penciptaan. Saya sruput dulu teh tawar ini. Foto 1: kelas di Balewiyata yang diasuh Schuurman ( 1938) . Foto 2: para penginjil NZG dan JC di Jawa Timur depan pendapa Balewiyata ( 1935) . ( image) Baca selanjutnya: 1 Ae Tata Kelola Yang Baik Sebagai Sumber Kepercayaan Organisasi 2 Ae Mburu Uceng Kelangan Deleg 3 Ae Bagong Tumbal 4 Ae Literasi Finansial Dalam Pengelolaan Dana Abadi 5 Ae Pada Suatu Ketika...

    1. 12 Jun 2022
  • Belajar dari Lomba Balapan Artikel Gerakan Warga GKJW gkjw
    Belajar dari Lomba Balapan, Artikel, Gerakan Warga GKJW, gkjw.org

    Akhir minggu ini MotoGP 2022 akan kembali digeber ( 18Ae20 Maret 2022) . Seri kali ini terasa spesial karena berlangsung di Mandalika, Lombok. Untuk pertama kalinya Indonesia masuk dalam sejarah lomba balap sepeda motor ini. MotoGP 2022 seri kedua ini diberi Pertamina Grand Prix of Indonesia akan berlangsung di street circuit sepanjang 4, 3 km. Dalam tulisan ini, saya tidak membahas soal MotoGP 2022 seri kedua ini. Saya mau bicara tentang kepemimpinan. Untuk itu saya memakai contoh dari para pembalap. Seorang pembalap motor, sebagaimana halnya profesi lainnya, tidak bekerja sendiri. Ia adalah bagian dari suatu tim di mana terdapat berbagai spesialis yang bekerjasama. Ada racing director, technical manager dan mekanik, di belakang tim itu, masih terdapat para periset, desainer, sponsor dan lain-lain pendukung yang bekerjasama pula dengan erat untuk menyukseskan balapan. Ketika memacu sepeda motor di lintasan maka pembalap itu sebenarnya menjadi puncak dari kerja bersama. Ia adalah individu yang mempergunakan segenap keterampilan dan intuisi untuk menjalankan sepeda motor. Ia menjadi eksekutor dari sebuah sistem di belakangnya. Nah, saat memacu kendaraannya, menikung di lintasan atau mendahului pembalap lain, pembalap seperti Marc Marquez, Michele Pirro atau Fabio Quartararo diuji kemampuannya mengambil keputusan. Tentu saja keputusan itu tak boleh ngawur namun berdasarkan keterampilan, pengetahuan dan kalkulasi risiko. Sebuah kecelakaan dapat dihindari pada detik yang menentukan, split second, dengan keputusan yang tepat dari pembalap itu. Sebuah kemenangan dapat diraih ketika pada detik yang tepat seorang pembalap mengambil keputusan yang benar. Semua keputusan itu diambilnya dengan mempertaruhkan seluruh kerja tim di belakangnya. Para jawara pembalap dunia memang dihasilkan dari kemampuan mereka berhitung terhadap risiko dan peluang, seraya menyeimbangkan berbagai persoalan di lintasan berdasarkan keterampilan dan pengalaman. Demikian pula seorang pemimpin. Ia harus memutuskan, acapkali dalam keterbatasan waktu Aehanya sepersekian detikAe dengan segala intuisi dan kemampuan. Memang, salah satu esensi dari kepemimpinan adalah kemampuan mengambil keputusan yang tepat pada saat yang tepat. Kita sepaham bahwa hidup itu soal pilihan. Ketika menjadi pemimpin maka membuat pilihan, atas nama organisasi atau entitas, akan menjadi kian penting. Untuk bisa berhasil memimpin, keputusan diambil berdasarkan kalkulasi risiko dan peluang. Tanpa niat untuk ngawur ( ngedian) atau asal-jalan saja ( waton kelakon) . Keputusan sesulit apapun, harus diambil, karena acapkali itulah yang menentukan apa yang terjadi ke depan. ( image) Baca selanjutnya: 1 Ae Tata Kelola Yang Baik Sebagai Sumber Kepercayaan Organisasi 2 Ae Mburu Uceng Kelangan Deleg 3 Ae Bagong Tumbal 4 Ae Literasi Finansial Dalam Pengelolaan Dana Abadi 5 Ae Pada Suatu Ketika...

    1. 12 Jun 2022
  • Pendidikan Yang Pernah Berjasa Refleksi Ibadah Syukur YBPK Artikel Gerakan Warga GKJW gkjw
    Pendidikan Yang Pernah Berjasa (Refleksi Ibadah Syukur YBPK), Artikel, Gerakan Warga GKJW, gkjw.org

    Hari minggu pertama di bulan Mei saban tahun dirayakan Greja Kristen Jawi Wetan ( GKJW) dengan ibadah syukur bagi Yayasan Bakti Pendidikan Kristen ( YBPK) . Asal tradisi ini tak diketahui, namun umum dilakukan setidaknya sejak awal tahun 2000-an. Perayaan ini dikaitkan dengan Mei sebagai Aubulan pendidikanAy dalam kalender besar keindonesiaan. Sulit untuk memberi rumusan tepat mengenai apa yang dimaksud dengan pendidikan kristiani. Jadi, anggap saja pendidikan ini adalah pengajaran yang diselenggarakan oleh kelompok keagamaan Kristen untuk menanamkan Aeatau setidaknya memperkenalkanAe etika kristiani. Bila pengertian ini diterapkan dalam sejarah kekristenan di Jawa Timur maka sekolah kristiani sudah dibuka Jellesma di Mojowarno pada tahun 1851. Alasan penginjil ini mendirikan sekolah dilandasi kenyataan literasi aksara latin dari orang Kristen Jawa sangat minim. Tanpa pendidikan sulit menciptakan pelopor Injil, guru agama atau tokoh jemaat. Oleh karena itu, didirikan sebuah sekolah di rumahnya, yang menampung kurang lebih 20 pemuda berusia antara 15 hingga 30 tahun. Sekolah darurat Jellesma ini merupakan contoh Aupendidikan KristenAy yang pertama-tama dirintis NZG untuk masyarakat di Jawa Timur. Walaupun sederhana, terbukti pengembangan pendidikan memainkan peran penting membentuk sumber daya manusia Kristen di Jawa Timur. Lewat sekolah, orang Kristen Jawa mempercepat dirinya dalam perjalanan sejarah. Pemandirian GKJW di kemudian hari, beserta segenap pergumulannya, berlangsung karena peran Kristen Jawa yang terdidik. Ketika berkunjung ke Mojowarno tahun 1854, pendeta Gereja Hindia dari Surabaya, Ds. Brummund sempat melongok AukelasAy di rumah Jellesma. Saat itu terdapat 17 orang siswa dan 6 calon siswa yang tengah belajar dibawah bimbingan Jellesma dan guru Albertus Kunto. Brummund mencatat: AuMereka menerima biaya hidup, pakaian dan pondokan, juga sedikit uang saku. Pada waktu senggang mereka melaksanakan beberapa pekerjaan rumah tangga. Bagi yang telah berkeluarga disediakan sebuah pondok; bagi yang masih bujang tidur bersama di atas balai-balai.Ay Meskipun serba sederhana toh beberapa guru terbaik dihasilkan sekolah ini. Selain Bernardus Ngadimin ( Ngamidien) yang sejak 1855 menjadi rekan dari Paulus Tosari di Mojowarno, juga terdapat sejumlah guru agama seperti: Asiel Ider ( bertugas di Mojowarno) , Kiai Amon dan Kiai Asariyo ( Suwaru) , Nikodemus dan Soleman ( Wiyung) dan Matheus Matdakim ( Pesapen, Surabaya) . Bahkan, ada yang merambah sampai luar Jawa Timur, seperti Markus Baris dan Semion Sampir yang pergi mengajar ke Kayuapu ( Kudus) ; Nekodimus Wakiman ( Pati) ; Petrus Sandoyo ( Salatiga) serta Yahuda Limbun di Kedungpenjalin ( Kudus) . Memang, pada mulanya pendidikan yang dikelola NZG praktis bertujuan memberi bekal agama, dan sedapat mungkin mencetak tenaga gereja. Tetapi dalam perjalanannya, pendidikan Kristiani kemudian dituntut untuk semakin berperan sebagai alat mencerdaskan umat. Bahkan, dalam batas tertentu, pendidikan menjadi komponen penting dalam membentuk identitas Kristen Jawa. Pendidikan dianggap sebagai salah satu instrumen emansipasi, setelah baptisan, yang menjadikan umat Kristen lebih berkapasitas dalam menjalankan kekaryaannya di tengah masyarakat. Pentingnya pendidikan bagi kaum muda disadari anggota jemaat; pendidikan bahkan menjadi salah satu nilai di mana etika Protestan menempatkan dirinya secara mantap di hati masyarakat Jawa. Menjadi tradisi pemuda Kristen Jawa untuk meneruskan sekolahnya, agar tak sekadar putus pada tingkat dasar. Praktis sekolah y la Jellesma ini mulai tidak memenuhi kebutuhan. Namun pengembangan pendidikan oleh NZG berjalan dengan perdebatan. Ada dua kutub dalam organisasi ini. Kutub pertama dipengaruhi etika Protestanisme Liberal di mana orang Jawa diyakini harus diberi pendidikan lebih dahulu sebelum diajak memahami Injil. Daya pikir mereka harus mengalami perkembangan dan kepribadian mereka harus terlatih sedemikian rupa, sehingga sanggup menangkap arti Injil secara intelektuil dan mengamalkannya. Sudut pandang ini diwakili antara lain oleh Harthoorn, pengganti Jellesma di Jawa Timur, 1858. Harthoorn menganggap pentingnya pendidikan dapat dilihat pada orang-orang Jawa yang masuk Kristen berkat usaha Coolen ( Ngoro) dan Emde ( Surabaya) namun menanggapi iman Kristen sedemikian rupa sehingga Injil menjadi suatu ngylmu baru. Artinya, dalih Harthoorn, pekabaran Injil mesti didahului proses pendidikan untuk mencerdaskan masyarakat setempat. Kutub yang berseberangan datang dari Poensen, penginjil berbakat yang ditempatkan di Kediri, 1860. Pendidikan, kata Poensen, adalah cabang kedua pekabaran Injil setelah Injil itu sendiri. Keduanya berjalan seiring, karena: AuPendidikan itu berguna untuk mengukuhkan iman Kristen pada orang-orang yang telah dijamah Kristus, dan sebaliknya pendidikan bukan alat untuk merintis jemaat-jemaat baru AAy tulisnya dalam sebuah traktat pada tahun 1865. Untunglah perdebatan mana yang harus ada lebih dahulu, pendidikan ataukah penginjilan, tidak menimbulkan gejolak di lapisan umat Ae pada umumnya. Sejak 1854, sekolah y la Jellesma mulai dirintis untuk tumbuh di beberapa jemaat Kristen Jawa saat itu. Kurikulum sekolah perintis ini sederhana sekali, Alkitab tetap berfungsi sebagai bacaan wajib yang serentak bertindak sebagai sarana dan tujuan pendidikan. Selain itu menulis, berhitung, juga diajarkan ilmu bumi dan sejarah. Lama bersekolah 2 sampai 3 tahun. Para lulusan AusekolahAy Jellesma biasanya terlibat penuh dalam mengelola sekolah-sekolah perintis tersebut. Mereka disebut pamulang dalam Bahasa Jawa, voorganger dalam Bahasa Belanda, atau jika mereka mendalami Injil disebut Guru Injil. Tugasnya mengajar sekaligus kegiatan pastoral. Sejak 1855, sejumlah sekolah perintis didirikan di Japanan ( Porong) , Tarukan ( Mojokerto) , Mojowarno ( Jombang) , Mundusewu ( Ngoro) , Belon ( Kertosono) , Sumbergayam ( Berbek) dan Maron ( Srengat) . Sehingga, apa yang dicita-citakan Poensen menjadi kenyataan. Pada jemaat-jemaat induk saat itu, NZG mudah membuka sekolah yang lebih formal. Baik di desa-desa yang lama dihuni orang Kristen Aeseperti Wonoasri, Aditoyo, Suwaru, Peniwen, Wonorejo dan SitiarjoAe maupun di daerah-daerah baru seperti Tunjungrejo, Sumberpakem dan lain sebagainya. Pendidikan yang dibuka tentu saja harus menyesuaikan diri dengan perkembangan edukasi dasar dan menengah pada zamannya. Pada masa pemerintahan kolonial Belanda di Jawa, sistem pendidikan disusun secara berjenjang dan sangat ketat. Kebijaksanaan pemerintah Hindia Belanda untuk mengendalikan persekolahan, serta terbatasnya dana yang dicurahkan saat itu untuk kemajuan masyarakat bumi putra menyebabkan pendidikan dasar dan menengah amat tersegmentasi. Setelah Indonesia merdeka dari penjajahan Kerajaan Belanda dan Kekaisaran Jepang, pendidikan dasar dan menengah mengalami berbagai perubahan. Pergeseran kepentingan dalam pendidikan dipengaruhi dinamika politik negara ini. Pendidikan dipandang sebagai bagian yang penting dalam penciptaan masyarakat yang adil dan makmur; tentunya ini dinyatakan dalam perubahan undang-undang dan berbagai peraturan pemerintahan yang menjadi tuntunan pelaksanaan pendidikan. Hari ini, jika kita cepatkan jarum jam berputar, YBPK adalah salah satu obyek dari proses pendidikan di Indonesia dengan segala dinamikanya. Yayasan di bawah GKJW ini memiliki 41 pengurus cabang dan 86 satuan penyelenggaraan pendidikan. Tampaknya cukup besar, namun dalam skala penyelenggaraan pendidikan oleh gereja lain ( dalam cakupan kekristenan) , apalagi lembaga keagamaan seperti Nahdlatul Ulama, Muhammadiyah, Persatuan Islam atau Al-Irsyad Al-Islamiyyah ( dalam cakupan keislaman) , maka YBPK ini relatif Aumungil.Ay Walau dikatakan mungil, penyelenggaran pendidikan kristiani di bawah GKJW ini bisa bikin pusing. Kondisi sekolah yang beragam, kualitas tenaga pengajar, kepala sekolah dan manajemen sekolah telah menjadi pergumulan lama. YBPK menjadi obyek dari dinamika penyelenggaraan pendidikan di Indonesia dan sekaligus dilematis bila dilihat sisi operasional. Ada banyak pengurus cabang yang maju, namun tak terelakkan Aekita semua tahuAe ada banyak lagi sekolah yang AumeranaAy bahkan nyaris hidup dalam suri. Sudahlah, kita sruput dulu teh pahit ini. Malang 1 Mei 2022 ( image) Baca selanjutnya: 1 Ae Tata Kelola Yang Baik Sebagai Sumber Kepercayaan Organisasi 2 Ae Mburu Uceng Kelangan Deleg 3 Ae Bagong Tumbal 4 Ae Literasi Finansial Dalam Pengelolaan Dana Abadi 5 Ae Pada Suatu Ketika...

    1. 12 Jun 2022
  • DUTA Meruwat Kegelapan Artikel Gerakan Warga GKJW gkjw
    DUTA: Meruwat Kegelapan, Artikel, Gerakan Warga GKJW, gkjw.org

    Saya tidak akan pernah lupa artikel pertama saya yang dimuat Duta. Artikel itu dimuat pada edisi April 1994, menceritakan kisah wayang Lakon Murwakala. Lakon yang umum dipentaskan dalam acara ruwatan. Dalam mitologi Jawa, ruwatan adalah suatu ritual untuk membersihkan orang-orang yang terancam oleh Sang Jahat. Kisah wayang ini coba saya ulas dari perspektif kekristenan. Ulasan yang cukup berani, kalau direnungkan sekarang, lantaran pengalaman saya sebagai penggemar wayang sangat terbatas dan artikel itu dimuat majalah yang hampir seluruhnya dibaca umat ( Kristen) Jawa. Untung tidak ada keluhan atau protes terhadap artikel saya. Sambutan positif ini memunculkan semangat menulis. Salah seorang pemimpin redaksi saat itu, Wardhani Tjiptowardhono, bahkan mendorong saya untuk terus menulis tentang wayang, agama dan kebudayaan. Mungkin juga redaksi saat itu merasa kasihan pada saya, seorang pemuda kerempeng dengan rambut keriting, mengantar naskah ke kantor redaksi. Hehe. Tapi, apapun juga sebabnya, artikel pertama ini menjadi pengantar dari suatu kedekatan emosional yang tumbuh antara saya dan Duta. Lebih tepat yang terjadi kemudian adalah saya belajar menulis bersama Duta. Melalui majalah ini, saya mendapat pengalaman hidup. Walau sejak sekolah dasar suka menulis, bahkan sewaktu kuliah bergabung dengan unit aktivitas pers mahasiswa, namun bagi saya pribadi menulis untuk sebuah majalah gereja adalah pengalaman yang sangat membekas. *** Saya justru mendapat pengalaman bergereja bersama Duta. Apa yang barangkali disebut orang Kristen pada umumnya sebagai Aupelayanan.Ay Saya juga bertemu banyak orang dan beragam arus pemikiran. Majalah ini sekitar tahun 1993-1998 berkantor di sebuah ruang sempit di belakang poliklinik yang terletak di bagian depan Balewiyata. Hanya ada satu komputer model lama, sebuah lemari besar dan tempat tidur susun. Aneh tapi nyata, seorang teman saya ikut tinggal di kantor redaksi itu. Ia memasak, mencuci, makan, tidur dan menyunting Duta di ruangan itu. Sesekali dalam seminggu, pemimpin redaksi ikut menginap di ruang sempit tadi. Mereka berbagi tempat tidur: teman saya tidur di bagian yang bawah, sedangkan sang pemimpin redaksi menginap di bagian yang atas. Setiap ada waktu luang, saya berusaha datang ke kantor Duta. Sembari menyeruput kopi yang disediakan Autuan rumahAy di tempat itu selalu ada diskusi. Tentang berbagai hal dan bermacam topik. Walau ruangan itu sempit namun pemikiran di sana sungguh lebar. Semasa itu kami membahas apapun, mulai filsafat, politik sampai ekonomi, mulai agama sampai ateisme, mulai keris sampai internet. Berdiskusi dan menulis untuk Duta akhirnya menjadi sebuah kegiatan yang mencerahkan. Saya mendapat banyak pengalaman. Bersama-sama Trianom Suryandharu misalnya, saya ikut menulis laporan utama kerusuhan Situbondo, 10 Oktober 1996. Laporan utama kami dimuat pada edisi Nopember 1996 dan ludes habis sampai saya sendiri tidak punya arsipnya. Tidak itu saja, saya menemukan banyak sahabat di Duta. Mereka memberi pengalaman yang luar biasa. Mulai mencari narasumber sampai berkejaran menulis setiap tenggat mendekat. Bersama-sama teman-teman yang berkumpul di sana, saya memperoleh kesempatan bertukar pikiran dengan orang-orang yang luar biasa. Sayang sebagian besar orang-orang itu kemudian tidak lagi bersama kita sekarang Sebutlah mendiang Wismoady Wahono dan Sardjonan ( semuanya mantan Ketua Majelis Agung GKJW) atau Benyamin Abednego ( mantan Modaremen GKI Jatim yang merupakan alumni Sekolah Teologia Balewiyata) . Juga banyak pula tokoh setempat yang arif: mendiang Kawignyan Asariya, keturunan Kiai Asariya yang merintis Desa Peniwen atau R. Hadi Wahyono, keturunan Kiai Karolus Wiryoguno sekaligus seorang sejarawan GKJW yang self-made. *** Bagaimana pun juga, hal paling berkesan adalah kekuatan komunitas yang melatarbelakangi Duta. Majalah ini, yang kemudian baru saya ketahui, ternyata memang merupakan sebuah majalah Aupergerakan.Ay Ketika pertama kali diterbitkan Lectuur Commissie, suatu badan di bawah Raad Ageng ( kini Majelis Agung) GKJW, Duta cuma berukuran setengah halaman folio. Dalam pengantar edisi perdana September 1935, redaksi menulis, tujuan majalah ini adalah Aukanggy ngiyatakan tykad panjenengan ing salebetipun ndyryk Gusti inggih tykad ing salebetipun penggayuh murihsaja raketipun patunggilan, punapa dyny tykad sediya ngelar jajahaning keratonipun Gusti Yesus Kristus.Ay Tujuan ini tampil secara eksplisit dalam sampul edisi perdana. Seseorang berpakaian Jawa, komplit dengan blangkon, sarung dan destar, digambarkan berjalan di bawah terbitnya matahari, dengan membawa majalah di tangannya. Ia tampak menuju sebuah desa yang muncul di ufuk. Jelas gambar sampul ini ingin memunculkan ide, Duta adalah AudutaAy dalam pengertian sebenarnya. cari Google Map Memang Duta bukan satu-satunya majalah yang pernah diterbitkan umat Kristen di Jawa Timur. Sejak 1857 di kalangan NZG di Jawa Timur sudah beredar Mededeelingan yang merupakan media resmi organisasi penginjil tersebut, selain De Opwekker dan De Macedoniyr. Saat Duta terbit, telah ada media lain di antara umat Kristen Jawa, seperti Het Swaru Blaadje dari jemaat Kristen Swaru, Malang Selatan, dan Majawarna Bode dari jemaat Mojowarno, Jombang. Lalu apa yang menyebabkan Duta menjadi sesuatu yang khas, bahkan memiliki arti eksistensial? Pertama, karena Duta adalah media yang diterbitkan pada suatu tingkatan regional, dan bukan lokal seperti Het Swaru Blaadje atau Majawarna Bode. Identitas Duta sejak awal sudah dinyatakan tegas sebagai serat wulanan GKJW. Isinya merangkum aspirasi jemaat Kristen Jawa pada tingkatan Jawa Timur dan tidak mencerminkan kepentingan zending sebagaimana yang dibawa Mededeelingen, De Opwekker atau De Macedoniyr. Isinya pun ditulis dengan Bahasa Jawa dan Melayu, bukan Belanda. Kedua, majalah ini merupakan salah satu simpul dari keinginan orang Kristen Jawa mendapat identitas di dalam arus perubahan yang saat itu melanda Hindia Belanda. Arus perubahan adalah kata kunci yang menyertai zaman transisi menuju kemerdekaan, ketika berbagai partai pribumi tumbuh dan mekar, ketika kata AunasionalismeAy mulai terdengar santer. Dengan kata lain, Duta adalah media yang menjadi cerminan dari suatu kemauan zaman untuk bergerak. *** Sebagaimana ihwal GKJW, sebagai pers gereja Duta kerap mengalami pasang surut. Antara 1950-1956 sebagian saja edisi Duta yang dapat terbit. Juga antara 1958-1976, majalah ini menghilang. Majalah ini sempat vakum selama beberapa tahun dan sebenarnya baru benar-benar terbit secara teratur sejak 1993 sampai sekarang ( 2008) . Jumlah pelanggannya juga tidak pernah berubah drastis. Oplagnya tidak mengalami peningkatan berarti dari tahun 1941 ( terakhir Duta terbit di zaman Hindia Belanda) walau umat GKJW bertambah dari 18.000 menjadi sekitar 125.000 jiwa. Beberapa tahun terakhir saya mendengar dari teman-teman di redaksi Duta, kehidupan majalah ini semakin sulit. Mungkin karena GKJW adalah salib kristus yang dipikul di tengah-tengah umat yang miskin, maka memelihara sebuah majalah gereja akhirnya menjadi barang mewah. Walau telah beberapa kali mengalami mati suri ( setidaknya pada periode 1958-1976 dan 1988-1993) saya harus menerima kenyataan suatu saat majalah ini akan masuk kembali ke masa tidur panjang. Persis kisah Putri Salju yang tidur selama bertahun-tahun, tampaknya Duta di akhir 2008 akan mengikuti dongeng ini. Hanya saja, berbeda dengan Putri Salju Aeuntuk Duta tidak bisa dipastikan kapan dia akan dibangkitkan kembali. Bila artikel pertama saya di Duta adalah tentang ruwatan yang merupakan suatu ritual untuk membersihkan ancaman oleh Sang Jahat, maka kini saya berpikir, apakah Duta sebenarnya dihadirkan untuk mengusir kegelapan dan kebutaan aksara. Bagaimana jika majalah ini lantas tidak terbit lagi? Saya teringat pada teman-teman semasa bergaul di Duta. Sebagian dari mereka masih saya ingat dengan jelas, walau perlahan kenangan itu bisa mengabur karena daya ingat manusia menurun. Walaupun demikian, bagi saya: mereka adalah komunitas cerdas dan telah mencerdaskan. Bila mereka bubar, barangkali ini adalah kehilangan besar kedua bagi GKJW setelah Duta itu sendiri. ( image) Baca selanjutnya: 1 Ae Tata Kelola Yang Baik Sebagai Sumber Kepercayaan Organisasi 2 Ae Mburu Uceng Kelangan Deleg 3 Ae Bagong Tumbal 4 Ae Literasi Finansial Dalam Pengelolaan Dana Abadi 5 Ae Pada Suatu Ketika...

    1. 12 Jun 2022
  • Bebas dari Trauma Akibat Pelecehan Seksual Artikel Gerakan Warga GKJW gkjw
    Bebas dari Trauma Akibat Pelecehan Seksual, Artikel, Gerakan Warga GKJW, gkjw.org

    Siang tadi, saya berkesempatan untuk membantu seorang gadis usia 21 tahun, yang mengalami pelecehan seksual saat duduk di bangku SMU. Meski trauma ini sudah terjadi 4 tahun yang lalu tetapi setiap kali dia mengingat kejadiannya, membayangkan wajah pelaku yang merupakan sesosok figur otoritas perasaannya menjadi sangat marah, benci, sedih, merasa kotor, tidak berdaya, air mata mulai keluar dan menangis! Bahkan di saat emosi-emosi negatif tersebut dirasakan, dirasakan pula sensasi di bagian tubuh tertentu yang tidak nyaman seperti kepala bagian belakang, pundak terasa berat, dada terasa sesak dan bibir terasa tidak nyaman. Dengan memakai The Heart TechniqueA ( THT) versi 3.0 saya membantu gadis ini untuk melepaskan semua emosi negatif yang mengganggu, benar-benar terlepas dari sistem psikis dan juga tubuh fisik. Di tahap pertama, dengan mengaktifkan memory traumatik dan emosinya diketahui bahwa intensitas emosi yang mengganggu ( khususnya sedih) ada di skala 9 dengan menggunakan SUD ( subjective unit disturbance) ; dan dilakukan identifikasi lokasi emosi di tubuh berupa sensasi tidak nyaman di bagian pundak yang terasa berat. Dilanjutkan dengan tahap kedua yaitu mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang telah disusun sedemikian rupa untuk mendapatkan persetujuan dan dukungan secara penuh dari pikiran bawah sadar agar gadis ini bisa sembuh dari traumanya. Di tahap ketiga, saya membimbing gadis ini untuk melakukan reset Vagus Nerve agar sistem para-simpatik menjadi aktif khususnya ventral vagal. Kemudian bimbingan dilanjutkan untuk mengedukasi tubuh dan pikiran. Setelah selesai di tahap ini, saat saya minta gadis ini untuk mengingat dan membayangkan kembali kejadian traumatik berupa pelecehan seksual yang dialaminya, sudah tidak dirasakan lagi emosi-emosi negatif yang diawal tadi terasa sekali tidak nyaman dan mengganggu. Bahkan sensasi tidak nyaman di bagian tubuh khususnya pundak yang terasa berat sudah tidak dirasakannya lagi. Yang ada hanyalah perasaan lega dan plong, serasa ada beban berat yang selama ini dirasakan hilang lepas dari dalam diri. Itulah emosi-emosi negatif yang melekat pada memory traumatik akibat pelecehan seksual yang dialami gadis ini 4 tahun yang lalu. Meski intensitas emosi sudah netral di skala 0, tahapan terapi tetap saya lanjutkan hingga protokol THTA selesai dilakukan semuanya. Sebuah kebahagiaan bagi saya bisa berkesempatan membantu gadis ini benar-benar bebas lepas dari trauma akibat pelecehan seksual di masa lalu. Demikianlah adanya, demikianlah kenyataannyaA GriyaHipnoterapiMalang.com ( image) Baca selanjutnya: 1 Ae Bimbingan Terapi Secara Online 2 Ae Menghakimi: Tamparan yang Mendidik 3 Ae Nilai Diri 4 Ae Makhluk Halus kah? 5 Ae Masalah Penyimpangan Orientasi Seksual

    1. 10 Jun 2022
  • Bimbingan Terapi Secara Online Artikel Gerakan Warga GKJW gkjw
    Bimbingan Terapi Secara Online, Artikel, Gerakan Warga GKJW, gkjw.org

    Baru saja selesai selama hampir 2 jam lamanya, saya membimbing salah seorang ibu ( sebut saja ibu Mawar) secara online dengan menggunakan fasilitas video call, dimana ibu Mawar ini mengalami masalah emosi sehingga membuat hidupnya terasa terganggu dan tidak nyaman. Ibu Mawar ini masih menyimpan rasa penyesalan yang mendalam dan rasa bersalah terkait dengan peristiwa meninggalnya ayah tercinta. Dan dirasakannya juga oleh ibu Mawar perasaan takut, kuatir dan cemas setiap berada di sebuah tempat yang disinggahinya dahulu, tepat sebelum kemudian menemui ayahnya yang beberapa saat kemudian meninggal. Perasaan-perasaan negatif ini sangat mengganggu hidup ibu Mawar di masa sekarang ini, meskipun kejadian meninggalnya ayah sudah hampir 3 tahun yang lalu. Ada juga pikiran negatif akan peristiwa kematian yang muncul. Dan dirasakannya juga sensasi di tubuh fisik yang mengganggu seperti dada terasa panas, tertekan; dan pundak kiri yang terasa berat seperti ada beban yang menekan. Saat dilakukan pengukuran intensitas emosi-emosi negatif yang mengganggu tersebut ( skala 0-10) didapatkan skala emosi penyesalan ada di angka 10, rasa bersalah di angka 8, rasa takut di angka 9 dan kuatir di angka 8. Saya kemudian memberikan bimbingan swa-terapi kepada ibu Mawar dengan menggunakan The Heart TechniqueA versi 3.0 untuk menetralisir muatan emosi-emosi negatif yang mengganggu tersebut. Hingga tahap ke-3 yaitu Body-Mind Release dari tahapan THTA bisa menurunkan intensitas emosi hingga 0 atau netral untuk perasaan menyesal dan rasa takut. Sedangkan untuk emosi rasa bersalah dan kuatir masih ada sisa sedikit yaitu di angka 3, serta sensasi tidak nyaman masih terasa juga di pundak sebelah kiri. Kemudian dilakukan tahap akhir yaitu pelepasan emosi. Dalam tahap ini, ditemukan adanya emosi-emosi sekunder yang mengganggu, yang berasal dari bagian tubuh lain yaitu di sekitar dada sebelah kiri dan tangan sebelah kiri. Setelah tahapan protokol THTA selesai dilakukan semuanya, kemudian dicek ulang intensitas emosi yang tersisa. Hasilnya, baik emosi rasa bersalah dan kuatir sudah tidak dirasakan lagi alias sudah di angka 0. Dan yang dirasakan sekarang, hanyalah perasaan lega, tenang dan plong. Artinya, ibu Mawar benar-benar sudah melepaskan emosi-emosi negatif tersebut keluar dari sistem psikis dan tubuh fisik yang bisa dilihat dari perasaan lega, tenang dan plong; serta tidak adanya lagi sensasi di tubuh fisik yang tidak nyaman. Sesuatu hal yang sangat menyenangkan bisa diberi kesempatan oleh ibu Mawar untuk memberikan bimbingan swa-terapi guna membereskan emosi-emosi negatif yang mengganggu dan membuat hidup terasa tidak nyaman. Demikianlah adanya, demikianlah kenyataannyaA GriyaHipnoterapiMalang.com ( image) Baca selanjutnya: 1 Ae Bebas dari Trauma Akibat Pelecehan Seksual 2 Ae Menghakimi: Tamparan yang Mendidik 3 Ae Nilai Diri 4 Ae Makhluk Halus kah? 5 Ae Masalah Penyimpangan Orientasi Seksual

    1. 10 Jun 2022
  • Menghakimi Tamparan yang Mendidik Artikel Gerakan Warga GKJW gkjw
    Menghakimi: Tamparan yang Mendidik, Artikel, Gerakan Warga GKJW, gkjw.org

    Pada ajang Oscar 2022 terjadi insiden Will Smith menampar Chris Rock yang menyebabkan kegemparan global, dan semua orang berkomentar apakah tindakan Will Smith, demi melindungi istrinya, bisa dibenarkan. Hong Huang Xiang, seorang guru SD di Taoyuan, Taiwan menggunakan tamparan Will Smith menjadi suatu pendidikan refleksi yang sangat baik pada para murid kelas 6 SD di sekolahnya. 1. Guru Hong memberi tahu para murid bahwa Chris Rock berbicara tentang kepala botak istri Will Smith pada upacara penghargaan Oscar, Will Smith sangat kesal dan naik ke atas panggung dan menampar Chris Rock. Lalu guru Hong minta siswa untuk mengangkat tangan apakah mereka mendukung langkah Will Smith, dan hasilnya, 40% siswa mendukungnya. 2. Guru Hong memutarkan video kejadian, sehingga siswa mengetahui istri Will Smith telah kehilangan rambutnya karena sakit dan terapi obat, akibatnya dia mengalami kerontokan rambut dan sering diejek. Lalu guru Hong minta para siswa untuk mengambil sikap, dan hampir 90% mendukung pemukulan Will Smith. 3. Guru Hong bertanya kepada para siswa bahwa ejekan itu adalah kekerasan verbal, tetapi memukul seseorang adalah kekerasan fisik yang serius, dan setelah itu Chris Rock mengatakan dia tidak tahu bahwa istri Will Smith mengalami kerontokan rambut karena sakit. Apakah layak mendukung orang yang langsung main hakim sendiri? Kali ini, jumlah murid yang mengangkat tangan untuk mendukung pemukulan turun menjadi 40%. 4. Guru Hong memberi tahu para siswa bahwa Will Smith adalah saksi KDRT saat dia masih kecil, dia sering menyaksikan ibunya dipukuli oleh ayahnya sampai berlumuran darah, sejak saat itu dia bersumpah untuk melindungi keluarganya. Jadi Will Smith berusaha melindungi istri yang paling dicintainya. Setelah mendengarkan penjelasan ini, murid yang mendukung pemukulan Will Smith naik lagi menjadi 80%. 5. Guru Hong mengatakan bahwa insiden kekerasan baru pertama kali terjadi pada Oscar ke-94 tahun ini, dan tayangan ini telah disaksikan oleh ratusan juta orang, sehingga Akademi Film AS sedang mempertimbangkan untuk memberi sanksi Will Smith. Jika Chris Rock menuntut, Will Smith akan menghadapi enam bulan penjara dan ganti rugi $ 100.000. Denda yang sangat tinggi, apakah murid masih mendukung pemukulan? Kali ini tinggal 50% murid yang mengangkat tangan. 6. Guru Hong akhirnya bertanya: " Saya telah meminta para murid untuk mengangkat tangan lima kali, bila ada murid yang konsisten lima kali angkat tangan, tolong angkat tangan." Ternyata, jumlah murid yang konsisten hanya 30% lebih sedikit. Lalu guru Hong memberi tahu para siswa bahwa peran yang baru dimainkan ini persis seperti oknum tokoh politik atau media, yang sengaja memberi informasi sepihak, dan hasilnya tercermin dari 70% murid yang telah mengubah pendapat mereka berdasarkan informasi sepihak yang diberikan. " Saya hanya memberi informasi yang saya inginkan para murid ketahui, apa yang tidak baik dan merugikan bagi saya, saya tidak akan mengatakannya, saya hanya ingin murid berpihak pada siapa, murid akan memilih siapa dan saya ingin murid membenci siapa, mereka juga akan mengikuti berdasarkan informasi yang saya berikan." Inspirasi : Fenomena ini sedang terjadi di seluruh dunia, juga di Indonesia khususnya. Oleh karena itu, siapapun yang memberi informasi pada Anda, Anda harus kritis dan tidak boleh menerima semuanya begitu saja. Biarpun orang tua, guru, guru agama, pemuka agama, media, politisi, ada kalanya mereka salah, kita harus menjadi dewasa dan sanggup membedakannya, jangan menjadi orang bodoh yang mudah dipecundangi orang lain. Penulis asli : No Name GriyaHipnoterapiMalang.com ( image) Baca selanjutnya: 1 Ae Bebas dari Trauma Akibat Pelecehan Seksual 2 Ae Bimbingan Terapi Secara Online 3 Ae Nilai Diri 4 Ae Makhluk Halus kah? 5 Ae Masalah Penyimpangan Orientasi Seksual

    1. 10 Jun 2022
  • Nilai Diri Artikel Gerakan Warga GKJW gkjw
    Nilai Diri, Artikel, Gerakan Warga GKJW, gkjw.org

    Seorang santri sedang membersihkan aquarium Kyainya, ia memandang ikan arwana dengan takjub. Gak sadar Kyainya sudah berada di belakangnya. " Kamu tau berapa harga ikan itu? " . Tanya sang Kyai. " Gak tahu" . Jawab si Santri. " Coba tawarkan pada tetangga sebelah! ! " . Perintah sang Kyai. Ia memfoto ikan itu dan menawarkan ke tetanggaA Kemudian kembali menghadap sang Kyai. " Ditawar berapa nak? " . Tanya sang Kyai. " 50.000 rupiah Kyai" . Jawab si Santri mantap. " Coba tawarkan ke toko ikan hias! ! " . Perintah sang Kyai lagi. " Baiklah Kyai" . Jawab si santri. Kemudian ia beranjak ke toko ikan hiasA " Berapa ia menawar ikan itu? " . Tanya sang kyai. " 800.000 rupiah Kyai" . Jawab si santri dengan gembira, ia mengira sang Kyai akan melepas ikan itu. " Sekarang coba tawarkan ke Si Fulan, bawa ini sebagai bukti bahwa ikan itu sudah pernah ikut lomba" . Perintah sang Kyai lagi. " Baik Kyai" . Jawab si Santri. Kemudian ia pergi menemui si Fulan yang dikatakan gurunya. Setelah selesai, ia pulang menghadap sang guruA " Berapa ia menawar ikannya? " " 50 juta rupiah Kyai" . Ia terkejut sendiri menyaksikan harga satu ikan yg bisa berbeda-beda. " Nak, aku sedang mengajarkan padamu bahwa kamu hanya akan dihargai dengan benar ketika kamu berada di lingkungan yang tepatA" " Oleh karena itu, jangan pernah kamu tinggal di tempat yang salah lalu marah karena tidak ada yg menghargaimu. Mereka yang mengetahui nilai kamu itulah yg akan selalu menghargaimuA" GriyaHipnoterapiMalang.com ( image) Baca selanjutnya: 1 Ae Bebas dari Trauma Akibat Pelecehan Seksual 2 Ae Bimbingan Terapi Secara Online 3 Ae Menghakimi: Tamparan yang Mendidik 4 Ae Makhluk Halus kah? 5 Ae Masalah Penyimpangan Orientasi Seksual

    1. 10 Jun 2022
  • Makhluk Halus kahY Artikel Gerakan Warga GKJW gkjw
    Makhluk Halus kahY, Artikel, Gerakan Warga GKJW, gkjw.org

    Kemarin siang, saya berkesempatan membantu seorang klien wanita yang mengalami masalah trauma dalam menjalin hubungan dengan seorang laki-laki. Hal ini menjadi sebuah pola berulang hingga terjadi 4x hubungan dengan laki-laki yang selalu berakhir dengan diputuskannya hubungan tersebut oleh pihak laki-laki. Semuanya ini menyisakan emosi negatif yang sangat intens berupa perasaan sakit hati, dendam, perasaan tidak layak, tidak berharga, dan takut untuk menjalin hubungan kembali dengan seorang laki-laki. Dalam sesi hipnoterapi yang memakan waktu hingga 4 jam, melalui pendekatan berbasis hipno-analisa yaitu mencari dan membereskan akar masalah atau kejadian pertama kali dialami oleh klien, ditemukanlah ISE ( initial sensitizing event) di saat klien duduk di bangku sekolah kelas 4 SD. Dengan teknik tertentu, emosi negatif yang dirasakan oleh klien berhasil dinetralkan dan dilanjut dengan rewriting history hingga klien merasa lega, senang dan nyaman. Sebelum mengakhiri sesi terapi ini, kami lakukan penyisiran ulang apakah masih ada sesuatu yang mengganggu klien terkait dengan masalah klien yang sudah terselesaikan ini. Ternyata, masih ada sesuatu yang tidak nyaman yang klien rasakan. Dan perasaan tidak nyaman ini ditemukan di beberapa bagian tubuh klien seperti kepala, leher, perut, lutut dan pergelangan kaki. Perasaan tidak nyaman ini beberapa berupa entitas dari luar diri klien yang masuk ke dalam diri klien, baik secara alamiah maupun secara sengaja dimasukkan atau diperintahkan oleh seseorang. Apakah entitas dari luar ini adalah makhluk halus atau roh? Saat proses identifikasi, entitas tersebut mengaku sebagai AusesuatuAy yang berasal dari luar yang masuk ke dalam diri klien, dengan berbagai tujuan tertentu. Entitas ini bisa diajak komunikasi dengan warna suara tertentu sesuai dengan karakter entitas tersebut. Ada entitas yang dengan mudah, bersedia untuk keluar dari diri klien. Tetapi ada pula entitas yang baru mau keluar dari diri klien dengan syarat tertentu. Bahkan ada entitas yang menunjukkan perlawanannya, tidak mau keluar dari diri klien meskipun sudah dilakukan negosiasi. Kami sebagai hipnoterapis klinis, selalu memperlakukan semua entitas tersebut sebagai bagian diri ( ego personality) bukanlah roh atau makhluk halus. Karena bagian diri ini tidak lain hanyalah memory yang ada di dalam diri klien. Selanjutnya klien dibawa ke kejadian dimana entitas tersebut untuk pertama kalinya masuk ke dalam diri klien. Kejadian tersebut diproses hingga tuntas dan dilakukan rewriting history. Dan di tahap akhir perlu dilakukan pengecekan ulang guna memastikan bahwa entitas tersebut sudah benar-benar keluar atau tidak ada lagi di dalam diri klien. Setelah semuanya selesai, klien benar-benar merasakan kelegaan yang luar biasa. Selain masalah utamanya terselesaikan, gangguan-gangguan yang selama ini dialami dan dirasakan juga bisa hilang dan tidak ada lagi. Klien merasa senang dan bahagia. Demikian juga kami sebagai terapis, merasa jauh lebih bahagia dengan perubahan positif yang telah dialami oleh klien. GriyaHipnoterapiMalang.com ( image) Baca selanjutnya: 1 Ae Bebas dari Trauma Akibat Pelecehan Seksual 2 Ae Bimbingan Terapi Secara Online 3 Ae Menghakimi: Tamparan yang Mendidik 4 Ae Nilai Diri 5 Ae Masalah Penyimpangan Orientasi Seksual

    1. 10 Jun 2022
  • Masalah Penyimpangan Orientasi Seksual Artikel Gerakan Warga GKJW gkjw
    Masalah Penyimpangan Orientasi Seksual, Artikel, Gerakan Warga GKJW, gkjw.org

    Seminggu yang lalu, saya melakukan sesi terapi yang pertama untuk seorang klien laki-laki usia 28 tahun dengan masalah penyimpangan orientasi seksual. Klien ini merasa dan mengakui adanya dorongan seksual terhadap sesama jenis. Awalnya dorongan seksual terhadap laki-laki ini, dirasakan oleh klien saat masih duduk di bangku SMP. Hingga akhirnya dorongan ini semakin memuncak saat klien dewasa dan sampai melakukan aktivitas seksual dengan seorang laki-laki. Hal ini menjadi beban yang luar biasa dalam diri klien, yang sangat ingin bisa hidup secara normal sebagai seorang laki-laki dengan menikahi seorang perempuan, memiliki anak dan keluarga. Untungnya, keluarga khususnya kedua orangtua yang mengetahui hal ini bersikap bijaksana dengan mau menerima apa pun keberadaan anaknya; dengan berusaha dan terus berharap agar anaknya bisa kembali normal layaknya seorang laki-laki sejati. Singkat cerita, dalam sesi terapi dengan menggunakan teknik tertentu didapatkan satu kejadian di masa lalu saat klien kanak-kanak yang menjadi akar masalahnya ( IEPCE) , yaitu kejadian saat klien berusia 5 tahun. Dalam kejadian ini ternyata melibatkan seorang laki-laki dewasa. Setelah diproses kejadian yang menjadi akar masalah ( IEPCE) beserta emosinya, dilakukan re-writing history baru kemudian dilakukan pengecekan di pikiran bawah sadar klien, guna memastikan tidak ada lagi bagian diri di dalam diri klien yang masih memunculkan dorongan seksual kepada sesama jenis. Dan, baru kemarin saya dapat kabar melalui pesan WA bahwa klien sudah merasakan dan mengalami banyak perubahan positif di dalam dirinya. Hanya saja, masih ada sedikit yang dirasakannya mengganjal. Untuk itu, saya meminta klien untuk segera menjalani sesi terapi yang kedua agar perubahan positif yang dirasakan dan dialami bisa lebih maksimal. Sebuah kebahagian bagi saya, jika bisa ikut terlibat dalam suatu proses perubahan hidup seseorang apalagi yang sangat menentukan nasib dan hidup di masa depan. GriyaHipnoterapiMalang.com ( image) Baca selanjutnya: 1 Ae Bebas dari Trauma Akibat Pelecehan Seksual 2 Ae Bimbingan Terapi Secara Online 3 Ae Menghakimi: Tamparan yang Mendidik 4 Ae Nilai Diri 5 Ae Makhluk Halus kah?

    1. 10 Jun 2022
  • Sebuah Strategi Dua Pengacara Kondang Yang Terkesan Kekanak Kanakan Bineka Gerakan Warga GKJW gkjw
    Sebuah Strategi Dua Pengacara Kondang Yang Terkesan Kekanak-Kanakan, Bineka, Gerakan Warga GKJW, gkjw.org

    Perseteruan dua sosok pengacara kondang berdarah Batak, yaitu Hotman Paris Hutapea dan Razman Arief Nasution ini, hampir tak lepas dari pengamatan saya. Mengapa ? Mereka yang katanya mempunyai predikat sebagai pengacara kondang ini, namun dalam menyampaikan pembelaannya, atau kalau ngomong terkesan kekanak-kanakan. Jadi saya menggambarkan bagai anak kecil yang sedang berseteru sambil saling memamerkan apa yang mereka miliki. Contohnya seperti ini. " Aku punya ini dan kamu tidak punya" juga " Aku anak pintar kamu goblok ! " Dan banyak lainnya lagi saling berargumen kekanak-kanakan. Lucu ! Memang menjadi pengacara salah satu profesi yang paling banyak disebut selain menjadi dokter, ketika pertanyaan tentang cita-cita keluar ketika masih di taman kanak-kanak atau sekolah dasar. Walaupun sekarang telah tercipta profesi baru yang lebih tenar, tapi tetap tidak mengurangi pandangan banyak orang secara umum dimana dengan menjadi seorang pengacara adalah sebuah kesuksesan. Bayaran besar, pendidikan tinggi dan status sosial terpandang adalah hal-hal yang melekat pada imej pengacara kondang. Jadi tidak salah jika sampai saat ini profesi ini masih menjadi idaman generasi milenial juga. Tetapi mereka setelah mempunyai predikat sebagai pengacara kondang semakin nyeleneh omongannya kekanak-kanakan seperti anak kecil. Saling menyombongkan diri kekayaannya di depan khalayak, yang terkesan tidak mau dikalahkan. Apakah hal ini merupakan sebuah strategi ? Nah, sekarang buat kamu-kamu yang saat ini sedang kuliah di jurusan hukum, apakah juga demikian setelah menjadi pengacara kondang lalu kamu sombongkan kelakuanmu seperti anak kecil saat kamu saling berseteru dengan temanmu juga berprofesi sebagai pengacara ? ( *)

    1. 10 Jun 2022
  • Politisasi Agama Bineka Gerakan Warga GKJW gkjw
    Politisasi Agama, Bineka, Gerakan Warga GKJW, gkjw.org

    Politisasi agama adalah politik manipulasi mengenai pemahaman dan pengetahuan keagamaan/kepercayaan dengan menggunakan cara propaganda. Dan kepentingan sesuatu kedalam sebuah agenda manipulasi politik. Nah lebih jelas, mari kita simak sebuah video yang sangat menarik dan membuat kita cerdas di balik sisi politisasi agama. Nampak seorang Direktur Jaringan Moderat Indonesia Islah Bahrawi melontarkan sindiran keras terhadap Politisi Partai Ummat Mustofa Nahrawardaya, viral di media sosial. Dilihat dari video itu, tampak Islah Bahrawi tengah berdebat dengan Mustofa Nahrawardaya dalam sebuah program televisi. Dengan nada tinggi menyebut Mustofa Nahrawardaya sebagai pelaku politisasi agama. " Kenapa saya ingin membawa ke arah politisasi agama, dia ( Mustofa) tersinggung? Karena dia pelakunya. Pelaku politisasi agama ini dia, kental, " ujar Islah Bahrawi. Selain itu, Islah juga menyinggung soal kasus Mustofa yang menurutnya pernah dideportasi dari negara Suriah. Dan juga menjelaskan soal bahaya politisasi agama dimana menurutnya hal itu telah memporak-porandakan agama-agama. " Politisasi agama itu telah memporak-porandakan agama. Di dalam Islam, saling bunuh sesama Islam, saling perang sesama Islam, itu terjadi, " tuturnya. Tak hanya dalam agama Islam, politisasi agama juga membuat sesama umat agama lain seperti Kristen saling bunuh satu sama lain. " Di dalam Kristen juga terjadi saling bunuh sesama Kristen, juga dengan orang Hindu, orang Budha, semua agama-agama itu ketika bersentuhan dengan politik semua kejahatannya itu dipaksa dalam konsep-konsep ketuhanan, " ujarnya. Inilah politisi agama yang sangat membahayakan keutuhan NKRI kita. Maka dari itu kita jangan gampang terpengaruh oleh propaganda yang tidak jelas dan menyesatkan, ( *) ( image) Baca selanjutnya: 1 Ae Dengan Tindakan Tegas Polisi Telah Menangkap Ketua Khilafatul Muslimin 2 Ae Sebuah Strategi Dua Pengacara Kondang Yang Terkesan Kekanak-Kanakan 3 Ae Promosi, Promosi dan Sukacita Promosi 4 Ae Peluncuran Website Etalage UMKM Warga GKJW embeumkm.com 5 Ae Kuat Dilakoni, Lek Ra Kuat Ditinggal Ngopi

    1. 10 Jun 2022
  • Dengan Tindakan Tegas Polisi Telah Menangkap Ketua Khilafatul Muslimin
    Dengan Tindakan Tegas Polisi Telah Menangkap Ketua Khilafatul Muslimin

    Nama Khilafatul Muslimin mencuat dan menjadi viral di media sosial usai melakukan konvoi 'Kebangkitan Khilafah' di wilayah Cawang, Jakarta Timur. Nah kita tahu Khilafatul Muslimin ( KM) merupakan sebuah organisasi keagamaan Indonesia yang mengusung ideologi khilafah. Dan organisasi tersebut didirikan oleh Abdul Qadir Baraja pada 1997 dan berpusat di Lampung. Namun akhirnya apa yang terjadi Polisi mengambil tindakan tegas dengan menangkap petinggi Khilafatul Muslimin Abdul Qadir Baraja di wilayah Lampung. Penangkapan dipimpin langsung oleh Direktur Kriminal Umum Polda Metro Jaya Kombes Hengki Haryadi, Selasa ( 7/6/2022) . Memang sebelumnya, polisi sudah menangkap tiga pimpinan cabang Khilafatul Muslimin atas dugaan penyebaran berita bohong dan percobaan makar yang dilakukan melalui aksi konvoi di wilayah Brebes, Jawa Tengah pada Senin ( 6/6/2022) . Tiga orang yang diamankan yaitu GZ selaku pimpinan cabang Jamaah Khilafatul Muslimin, serta DS dan AS yang merupakan pimpinan ranting jemaah Khilafatul Muslimin. Kepolisian menilai ormas ini memiliki latar belakang dan juga kedekatan dengan sejumlah organisasi teroris. Polisi juga menduga mereka berpotensi menimbulkan kejahatan tersebut. Sementara itu Badan Nasional Penanggulangan Terorisme ( BNPT) meminta agar pemerintah daerah mewaspadai gerakan organisasi Khilafatul Muslimin. BNPT menilai organisasi itu berpotensi melahirkan terorisme. Menurut Direktur Pencegahan BNPT RI Ahmad Nuwakhid kepada wartawan, Selasa ( 31/5/2022) Organisasi Khilafatul Muslimin sangat bertentangan dengan falsafah bangsa dan berpotensi melahirkan gerakan terorisme. Juga di sisi lain, Kementerian Dalam Negeri ( Kemendagri) menegaskan seluruh organisasi masyarakat yang ada di Indonesia tidak boleh bertentangan dengan Pancasila sebagai ideologi negara, ( *) ( image) Baca selanjutnya: 1 Ae Politisasi Agama 2 Ae Sebuah Strategi Dua Pengacara Kondang Yang Terkesan Kekanak-Kanakan 3 Ae Promosi, Promosi dan Sukacita Promosi 4 Ae Peluncuran Website Etalage UMKM Warga GKJW embeumkm.com 5 Ae Kuat Dilakoni, Lek Ra Kuat Ditinggal Ngopi

    1. 10 Jun 2022
  • Emde Straat Soerabaia Artikel Gerakan Warga GKJW gkjw
    Emde Straat Soerabaia, Artikel, Gerakan Warga GKJW, gkjw.org

    Semua cerita berawal disini. Rumah tua kayu berlantai dua, di luar kota benteng Surabaya. Pemukiman orang indo Eropa. Rumah Johannes Emde, tukang jam berkebangsaan Jerman. Lantai dasar tempat kerjanya, bengkel arloji. Lantai atas tempat tinggal dan ruang pertemuan OSS ( orang saleh Surabaya) . Rumah ini juga menyiapkan kamar khusus. Penginapan gratis kepada misionaris yang kebetulan singgah di Surabaya. 20 April 1859 Emde meninggal dunia. Setelah pemakaman di Peneleh, keluarga membereskan segala sesuatu dikamarnya. Mereka terkejut menemukan sebuah album. Ada 87 nama tercatat disana. Seperti buku tamu. Nama nama Misionaris yang pernah menginap di kamar itu. Salah satunya, Joseph Kam. Tahun 1814 Kam menunggu 6 bulan kapal jurusan Ambon. Dari Kam lah, Emde mempunyai semangat PI. Setelah Kam bertugas ke Ambon, Emde mendirikan OSS Perkumpulan PI orang indo Eropa. Ejekan sering terdengar di kelompok ini. Belanda ( totok) mencemooh, kelompok eksklusif " para wanita Surabaya" . Bahkan tahun 1820 Emde dipenjara karena laporan Pendeta Gereja Surabaya, dianggap menghina Pendeta & Gereja. Belum lagi yang pribumi ikutan pula. Ketika kelompok ini pemahaman Alkitab, rumahnya kerap dilempari kerikil. Malam hari poster poster ditempel depan rumah. Pagi bangun tidur, Emde mencopotnya. Satu poster bergambar kartun Emde. Tangan kanannya memegang Alkitab tangan kirinya membawa botol bir. Entah maksudnya apa. " Gold, Glory & Gospel, " cuma slogan kolonial. Tidak ada " Glory" di Pulau Jawa. Perjanjian Baru Bryckner yang baru dicetak, disita pemerintah. Alasannya yang sama sampai sekarang : menjaga keamanan ( rust en orde) dan ketertiban negara. Takut kepada mayoritas. Tetapi kelompok Emde terus menabur. Menerjemahkan Alkitab sendiri. Dalam bahasa Melayu rendah ( dialek Surabaya) dibuat dan dibiayai sendiri. Sampai saatnya tiba. Tidak ada pekerjaan menabur yang sia-sia. Benih itu tumbuh ditanah yang subur. von Faber dalam Oud Soerabaia menulis, Emde penduduk kota yang terpandang. Di hari pemakamannya yang mengantarkan seribu lebih orang ke makam Peneleh. Pengikutnya memberi sapaan, Santo dari Surabaya. Ketika proyek jalan pos Daendels lewat Surabaya, perubahan dan penambahan jalan terjadi. Jalan depan rumah tua kayu berlantai dua itu diberi nama Emde Straat. ( image) Baca selanjutnya: 1 Ae Rival Baru: Shincheonji di Indonesia 2 Ae PENTAKOSTA Kala itu 3 Ae Media Online Digital GKJW ? 4 Ae Ketika PHK PNS - H 2 PSBB.sby 5 Ae Lukisan Tangan Berdoa

    1. 5 Jun 2022
  • Rival Baru Shincheonji di Indonesia Artikel Gerakan Warga GKJW gkjw
    Rival Baru: Shincheonji di Indonesia, Artikel, Gerakan Warga GKJW, gkjw.org

    Seharian kemarin, di beberapa grup yang saya ikuti beredar informasi terbongkarnya sepak terjang gereja Shincheonji di Indonesia. Informasi yang dibagikan dari SEWORD itu menyebut Shincheonji adalah gereja aliran sesat dari Korea Selatan, pasalnya Lee Man-hee pemimpin Shincheonji mengklaim dirinya adalah mesias atau sang juru selamat. Setelah membaca artikel itu saya justru tertarik meneliti Shincheonji dan mencari tahu siapa Lee Man-hee, nanti kalau sudah mendapatkan datanya secara lengkap akan saya tulis secara khusus. Sekarang saya ingin mengajak sidang pembaca untuk melihat fakta mengejutkan tentang Shincheonji berdasar informasi yang beredar kemarin, kita akan fokus mencermati apa yang Shincheonji lakukan di Indonesia saja. Informasi yang beredar kemarin dibuka dengan seruan supaya orang Kristen waspada terhadap Shincheonji, sebab sekte akhir jaman ini sudah masuk Indonesia dengan berkamuflase dalam wujud NGO : Heavenly Culture, World Peace, Restoration of Light, International Women Peace, dan IPYG, bukan dalam bentuk gereja. Kemudian secara runtut diuraikan Shincheonji bergerak melalui media-media besar yang ada di Indonesia, masuk ke sekolah-sekolah dan kampus-kampus, mengadakan berbagai macam kegiatan yang menarik di bidang pendidikan, perdamaian, seni dan budaya serta kegiatan inovatif lain untuk merekrut anggota baru. Disebutkan juga sudah ada sekolah Kristen yang tanpa sadar telah menjadi kepanjangan tangan Shincheonji. Di bagian selanjutnya dijelaskan secara singkat daleman Shincheonji, kesesatan Lee Man-hee, data pengikutnya dan pola perekrutan mereka yang sangat masif, terorganisir, dan militan. Melihat hal ini, kita sebagai gereja seharusnya tahu diri, malu dan segera bertobat. Shincheonji yang dicap sebagai sekte akhir jaman telah melakukan apa yang diharapkan Tuhan Yesus kepada gereja Nya yaitu : Pergi memuridkan dan mengajar bangsa-bangsa, Matius 28:19-20. Terlepas pemuridan dan pengajaran Shincheonji sesat, faktanya kelompok ini terbukti visioner, lentur, antusias, cerdik, taktis, kreatif, tangguh, berani dan terbuka dalam merebut jiwa-jiwa. Metode perekrutan mereka sangat menarik, fleksibel, universal, menghibur, dan mengikuti perkembangan teknologi. Ini cuma pandangan saja, seandainya Shincheonji diadu dengan Gereja yang hanya sibuk dengan urusan kalangan sendiri, tertutup, kaku dan mata duitan, dijamin Shincheonji pasti menang banyak. In His Vine Finish Winarto, Nabire Papua. Ilustrasi gambar diambil dari bbc.co.uk ( image) Baca selanjutnya: 1 Ae Emde Straat Soerabaia 2 Ae PENTAKOSTA Kala itu 3 Ae Media Online Digital GKJW ? 4 Ae Ketika PHK PNS - H 2 PSBB.sby 5 Ae Lukisan Tangan Berdoa

    1. 5 Jun 2022
  • PENTAKOSTA Tanpa Kuatir Renungan Gerakan Warga GKJW gkjw
    PENTAKOSTA: Tanpa Kuatir, Renungan, Gerakan Warga GKJW, gkjw.org

    " Gereja sekarang lebih banyak bikin masalah dari pada menjadi jawaban." kalimat itu diucapkan seseorang yang ada di seberang gawai dengan nada marah. Sebut saja namanya Hans, seorang pengusaha yang tinggal di sebuah kota kecil di Jawa Timur. Aku mengenal Hans pada pertengahan 2016 saat melayani di sebuah persekutuan doa, dia salah satu pengurus persekutuan doa itu. Sabtu sore kemarin Hans menghubungiku, dia sedang pusing dengan salah satu staf di kantornya yang minta ijin untuk pulang lebih cepat karena mau ibadah di gereja, sementara staf ini sedang dibutuhkan untuk menyelesaikan pekerjaan yang sudah memasuki tenggat waktu. Kalau saja ada staf lain yang memiliki keahlian setara dan bisa menggantikan dia, pasti diijinkan, karena tidak ada staf pengganti, Hans tidak memberi ijin. Rupanya stafnya tidak menyerah, dia menghubungi gembalanya yang kenal dengan Hans. Mungkin pikirnya kalau gembalanya yang bicara, Hans pasti segan dia diijinkan pulang cepat. Menurut Hans, gembalanya kurang bijaksana, tidak berusaha memahami duduk persoalannya langsung menyebut Hans menghalang-halangi orang mau beribadah. Karena menghormati pak gembala, Hans mencoba menjelaskan kenapa dia tidak memberi ijin, penjelasannya ditolak. Pak gembala justru menyerang Hans dengan hal lain yang tak ada hubungannya dengan stafnya. Merasa teritorialnya diacak-acak dan dirinya diserang, Hans murka, dia berkata pak gembala jangan ikut campur urusan pekerjaannya. Pembicaraan diputus oleh Hans tanpa permisi, setengah jam kemudian Hans menghubungiku untuk menumpahkan semua kekesalannya. Walau bicara jarak jauh, aku bisa merasakan Hans masih terbawa emosi ketika menjelaskan dirinya diintimidasi oleh gembala stafnya, Hans dibilang tak menghargai Roh Kudus. Ibadah yang mau dihadiri stafnya adalah bagian dari rangkaian ibadah Pentakosta yang diyakini akan terjadi pencurahan Roh Kudus. Tentu Hans tidak terima, selama ini stafnya itu sering minta ijin pulang cepat dengan alasan mau ke gereja, Hans selalu ijinkan. Kali ini tidak diijinkan karena memang tidak memungkinkan, kebetulan ijin itu tak diberikan bertepatan dengan ibadah yang katanya akan terjadi pencurahan Roh Kudus, lalu dengan enaknya pak gembala menuding Hans tak menghargai Roh Kudus. Dalam amarahnya Hans protes, apakah Roh Kudus hanya bisa tercurah di dalam gedung gereja, dan harus dipersiapkan atau dikemas dalam ibadah khusus. Apakah Roh Kudus tak bisa tercurah kepada pengendara mobil di jalan, membuat pengendara itu jadi tertib berlalu lintas misalnya. Atau tercurah di tempat pelacuran menimpa seorang suami yang sedang lupa anak dan istrinya, kehadiran Nya membuat dia sadar akan istri dan anak-anaknya, atau tercurah di tempat kerja mengubah etos kerja seorang karyawan jadi penuh integritas, dan tercurah ditempat lainnya memperbaiki akal budi manusia. Aku belum menjawab, Hans sudah melanjutkan. Seandainya Roh Kudus tercurah kepada sepasang suami istri yang nyaris cerai, kemudian mereka saling mengampuni, berubah dari saling menyakiti menjadi saling mengasihi. Akhirnya anak-anak melihat rumah yang tadinya berisi pertengkaran berubah menjadi penuh canda tawa riang karena papa mamanya saling gelitik di depan anak-anaknya, apakah itu tidak termasuk pencurahan Roh Kudus. Terakhir Hans menantang, kalau memang pencurahan Roh Kudus hanya bisa terjadi di dalam ibadah dan harus di gereja, perubahan seperti apa yang diharapkan gereja. Apakah hanya sekedar menyanyi sampai menangis, lalu bicara dengan bahasa baru, meraung-raung, tumbang, menggelepar dan itu disebut mengalami lawatan. Setelah pulang dari gereja tetap nonton pornografi, berkata kasar, pemarah, mahir bergosip, masih mata duitan dan pelitnya kambuh-kambuhan. Kalimat " Gereja sekarang lebih banyak bikin masalah dari pada menjadi jawaban." , terlontar di bagian ini. Katanya gereja terlalu sempit memahami kehadiran Roh Kudus hanya dengan pemahaman, istilah dan gerakan religius yang dianggap benar secara doktrin mereka saja, ini yang jadi masalah. Aku terpaksa menghentikan Hans, karena dia sudah terbawa emosi. Sebelum dia ngelantur lebih jauh, aku ingatkan, dia tetap boleh menumpahkan uneg-unegnya tetapi tak harus jadi marah. Setelah tenang, dia minta waktu untuk mengungkapkan pandangannya tentang Pentakosta. Jika Pentakosta adalah peristiwa tercurahnya Roh Kudus atas manusia, berarti manusia tak lagi berkuasa atas dirinya karena seluruh hidupnya ada dalam kendali Roh Kudus. Kira-kira seperti apa model manusia yang ada dalam kendali Roh Kudus, pertanyaan itu dijawab sendiri, " Tuhan Yesus telah memberi teladan bagaimana hidup dalam kendali Roh Kudus secara total." katanya dengan tenang. Tiba-tiba Hans menyebut Matius 4:1-11, dengan praktis dia menguraikan kisah Pencobaan di padang gurun. Hans berkata tegas " Inilah bukti kalau manusia mengalami Pentakosta, dia akan tunduk dibawa ke mana saja, tidak lagi mikir perutnya sendiri, tidak menyalahgunakan anugerah Tuhan, tidak silau dengan dunia dan segala isinya." . " Salah satu tanda dari banyak tanda yang menyertai orang yang hidup dalam kendali Roh Kudus adalah dia tak akan pernah kuatir tentang apapun dan dalam situasi apapun." kata Hans mengakhiri pandangannya tentang Pentakosta. Aku merasa tak perlu menanggapi apapun, karena dari awal aku hanya ingin memberi dia tempat untuk menumpahkan kekesalannya. Terima kasih kepada sidang pembaca yang sudah berkenan meluangkan waktu membaca tulisan ini, selamat merayakan Pentakosta dan terus menjadi berkat. In His Vine Finish Winarto Nabire Papua. ( image) Baca selanjutnya: 1 Ae Allah tidak pernah ingkar janji 2 Ae Gusti Mangertos Kabetahan Kita 3 Ae Tuhan menolong di setiap penderitaan kita 4 Ae Tuhan Yesus sumber kebahagiaan 5 Ae Membatasi

    1. 5 Jun 2022
  • PENTAKOSTA Kala itu Artikel Gerakan Warga GKJW gkjw
    PENTAKOSTA Kala itu, Artikel, Gerakan Warga GKJW, gkjw.org

    PENTAKOSTA Kala itu. Perayaan Hari Pentakosta di Mojowarno 20 Mei 1923 terasa sangat istimewa. Terasa pas, ( seperti) Roh Kudus telah turun diatas kepala kepala orang Jawa itu. Secara ekumenis Minggu Pentakosta juga disebut hari kelahiran Gereja. Bukan karena efek kebangkitan nasional saja ( saat itu marak) . Kebangkitan Yesus adalah yang terutama. Setelah itu, lima puluh hari kemudian Roh Kudus turun. Hari itu Jemaat Mojowarno dinyatakan merdeka. Permintaan untuk mandiri telah disetujui Konferensi Misionaris. Tiga syarat rujukan saat itu, Trias Warneck ( mengatur diri sendiri, membiayai sendiri, mengembangkan diri sendiri) terpenuhi. Cita-cita yang telah lama terpendam. Dimulai sejak tahun 1913, beberapa anak muda ingin mandiri. Lepas dari bayang-bayang Pendeta zending ( Belanda) . Sayangnya usulannya ditolak. Kemudian, sore hari jam 5 sore pas hari Pentakosta tahun 1918 ditempat yang sama pemuda-pemuda itu mengulangi seruan yang sama. Di bawah pohon beringin yang rindang depan kapanditan Mojowarno. 30 perwakilan Mardi Pratjaja dari Divisi Jawa Timur dan Jawa Tengah menggelar rapat tahunannya. Seruan kemerdekaan pribumi Jawa itu dibahas lagi. Yang lain berkata, " kurangnya pemimpin-pemimpin ( pemuda) Kristen dalam tingkat lokal dan regional adalah sumber ketidaksiapan kita." Lalu esok harinya dibahas Mardi Pratjaja menjadi Partai Kristen. Walau belum mandiri tetapi di tahun 1919 Mojowarno telah menentukan Pendeta Pribumi sendiri, Driyo Mestaka. Konsistori Mojowarno ditata ulang. Beberapa komite dibentuk, terutama dalam hal mempersiapkan kemandirian. Bulan Februari 1923 mereka mengajukan permintaan kemandirian jemaat. 1 Maret Konferensi Zending melakukan penyelidikan permohonan itu. Perjuangan panjang itu akhirnya berakhir. Tepat di Hari Pentakosta 20 Mei 1923, pengharapan itu terwujud. Sebuah gapura baru terlihat di depan pintu masuk Gereja. Huruf Jawa emas tertulis di sana : Goenaning ( 3) , panembah ( 2) , troesing ( 9) , toenggal ( 1) . Pembacaan Chandra Sengkala dari belakang sehingga membentuk tahun 1923. Di belakang gapura itu juga tertulis huruf Jawa. " Pangandika Tuwan amandangaken manah" . AJC Krafft, menulis secara rinci peristiwa itu dalam laporannya : Kebaktian dimulai dengan nyanyian " Himne Ascends Out of Zion's Halls." Kemudian cerita Pantekosta dibacakan. Setelah itu berdoa. Pendeta J.M.S Baljon adalah pembicara pertama. Dengan suara gemetar karena menahan emosi berkata, AuGereja Kristen dimulai pada hari Pentakosta. Roh Tuhan dicurahkan pada hari Pentakosta. Dengan Roh itu saudara adalah anak-anak Tuhan. Sekarang setelah kami memperhatikan bahwa Roh Tuhan juga hidup dan bekerja di dalam saudara, kami ingin memberi saudara kebebasan. Biarkanlah diri saudara dibimbing oleh Roh itu, maka Tuhan akan memberi saudara kekuatan untuk melanjutkan di jalan yang telah saudara pilih. Jadilah pembawa cahaya Tuhan! Ay Setelah itu ia melangkah maju lalu mengajukan pertanyaan : 1. Apakah saudara percaya bahwa Yesus Kristus, Sang Kepala Gereja, telah memanggil saudara untuk melayani jemaat Modjowarno di Jawa ? 2. Maukah saudara membuat janji bahwa saudara akan memenuhi tugas saudara, bersama dengan saudara-saudara seiman lainnya, percaya kepada Roh Kudus, yang juga berdiam di dalam hati saudara ? Pendeta Jawa kami ( Driyo Mestaka) menjawab dengan sangat haru. Dalam doa, jemaah bernyanyi kepadanya: " Biarlah Jiwa-Mu membantu dan mendukung dia dan semakin menginspirasi dia." Maka seluruh pengurus Raad Greja Alit itu harus menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut: 1. Apakah Anda percaya bahwa Yesus naik ke surga, dan setelah itu Roh Kudus dicurahkan ke bumi pada hari Pentakosta untuk menggantikan Dia? 2. Apakah Anda percaya bahwa jemaat Kristen-Jawa muncul bukan hanya oleh manusia, tetapi juga oleh karya Roh Kudus, yang dicurahkan ke bumi? 3. Apakah keinginan Anda untuk menjadi lebih jelas pada hari bahwa dalam mengikuti Yesus, kepala gereja, Anda harus dipimpin oleh Roh Kudus? Tiga puluh pria itu menundukkan kepala dan berdoa kepada Tuhan agar mereka setia dalam pelayanan ini. Penatua misionaris berbicara kepada mereka. Dalam sambutannya, Mr. Crommelin mengenang pada Paulus Tosari, misionaris Jellesma, J. dan A. Kruyt, dan pada dakwah masa lalunya di tengah-tengah mereka. Sebelum sepuluh tahun, tidak terbayangkan jemaat dapat dinyatakan mandiri secepat itu. Dia bersukacita atas langkah penting ini. Atas nama NZG ia menyatakan Jemaat Mojowarno mandiri dengan masa percobaan 5 tahun. Selama itu akan tetap berhubungan dengan misionaris di Modjowarno. Setelah kebaktian, orang Jawa dan Eropa berjalan ke teras belakang rumah kapanditan yang luas. cari Google Map Banyak sambutan menyusul disana. Dokter Djawa kami, Ismael membaca ucapan selamat telegraf dari Belanda. Kiriman ucapan dari pengurus Zending disana. Era baru telah dimulai. Gereja induk telah mendahului. Sidang lain akan segera menyusul mengikuti teladannya. Beginilah cara kita melihat Kerajaan Allah datang! ( image) Baca selanjutnya: 1 Ae Emde Straat Soerabaia 2 Ae Rival Baru: Shincheonji di Indonesia 3 Ae Media Online Digital GKJW ? 4 Ae Ketika PHK PNS - H 2 PSBB.sby 5 Ae Lukisan Tangan Berdoa

    1. 5 Jun 2022
  • MerdekaY Artikel Gerakan Warga GKJW gkjw
    MerdekaY, Artikel, Gerakan Warga GKJW, gkjw.org

    Berbicara tentang agama dan kehidupan beragama di Indonesia memang tak akanA pernah ada habisnya.A Sudah saatnyaA ketika berbicara tentang agama, kita memakai kacamata yang berbeda dari yang selama ini kita pakai, dengan kata lain, melihatnya haruslah dari berbagai sudut pandang. AuThe Meaning and The End of ReligionAy karya Wilfred Smith mungkin bisa membantu bagaimana kita memahami makna agama secara holistik. Peradaban Timur ( Cina dan India terutama) dan Barat dengan berbagai budayanya, yang didalamnya juga termasuk agama, seiring berjalannya waktu akhirnya sampai juga di Indonesia, dan tidak bisa dipungkiri bahwa itu juga turut ikut andil dalam membentuk pola pemikiran sebagian besar rakyat Indonesia. Di tahun 2010, data yang di peroleh oleh BPS melalui sensus penduduk mengatakan 87% masyarakat Indonesia adalah pemeluk agama Islam, kemudian 6, 9% Kristen Protestan, lalu 2, 9% Kristen Katolik, dilanjutkanA 1, 7% Hindu, disusul Buddha dengan 0, 7%, ada Konghucu 0, 05%, dan sisanya adalah mereka yang tidak mengasosiasikan diri dengan ke-6 agama tersebut, dan sudah dipastikan bahwa beberapa dari mereka adalah para pemeluk agama suku.A Disadari atau tidak, kehadiran agama-agama besar dunia ke Indonesia, seperti Kekristenan yang datang bersamaan dengan kolonialisme, membawa pemikiran-pemikiran yang sarat dengan paradigma dunia Barat, salah satunya adalah pola pikir dualistik. Dualisme, yang oleh Cambridge Dictionary diartikan sebagai sebuah keyakinan dimana segala sesuatu dibagi menjadi dua yang seringkali sangat berbeda dan bertentangan, A adalah corak pemikiran yang mau tidak mau harus kita akui sudah mengakar rumput pada rakyat Indonesia. AuAku benar, selain aku salahAy, AuYang kusembah hanya satu Tuhan, mereka menyembah lebih dari satu berarti dosaAy, AuYang aku imani adalah yang tidak kelihatan dan tidak berbentuk, mereka yang menyembah yang nampak berarti mereka menyembah berhalaAy, simplifikasi seperti ini akhirnya secara tidak langsung menimbulkan perasaan superior dalam diri kita, para pemeluk agama Abrahamik, sehingga dengan gampangnya melabeli siapa-siapa yang tidak AoseimanAo dengan kita adalah yang sesat.A ABersumber dari pola pikir dualistik yang rasional inilah agama atau religi juga dimaknai secara berbeda. Agama, yang dalam bahasa Inggris disebut religion, bersumber dari bahasa Yunani , AureligioAy, A mengalami pergeseran makna dari waktuA ke waktu.A Kitab suci, ritual, punya tokoh utama, dan selalu mengandung konsep teologis adalahA makna agama yang dipahami sebagian orang pada masa pencerahan di Eropa. Religio pada mula-mula tahun masehi dipahamiA menjadi dua hal, yaitu pertama, religiosae locate ( lokasi religius) yang dimaknai sebagai kekuatan yang suci, atau juga sebuah tempat suci yang diyakini sebagai sesuatu yang memiliki daya atau kemampuan untuk membuat individu melakukan sikap-sikap tertentu, dan kedua, viri religiosi yang merujuk pada sikap individu terhadap kekuatan yang suci itu. Dari dua hal inilah, masa awal Kekristenan muncul, makna religio mengalami pergeseran menjadi religio dei, atau cara penyembahan terhadap satu Tuhan, dan pemahaman semacam ini akhirnya membuat KekristenanA menjadi paling unggul dan merasa sebagai yang paling benar pada masa itu. Pada abad ke-5, St. Agustinus, seorang AopemukaAo dari Kekristenan, A berpendapat bahwa religio adalahA ikatan manusia secara personalA dengan Yang Ilahi atau yang disebut Tuhan itu. Selanjutnya, di abad 11 dan berakhir pada abad 14, religio dipahami sebagai ikatan manusia dengan Tuhan, namun secara spesifik dalam lingkup kehidupan monastik. Abad 15, adalah masa dimana Eropa menghidupi budaya Helenis, religio dimaknai sebagai AoinstingAo manusia untuk mencari kekuatan yang suci dan juga sebagai sikap untuk menyembah Tuhan. Selanjutnya pada masa Reformasi Kekristenan yang dilakukan oleh John Calvin, religio atau disebut juga religio ney adalah ajaran-ajaran yang mengajarkan kesalehan berdasarkan tradisi-tradisi iman Kristen. Masuk pada masa pencerahan ( abad 17) , dimana rasionalisme menguasai Eropa, religio atau religio ney dipahami sebagai sebuah sistem kepercayaan yang benar, dimana Kekristenan masih merasa bahwa ia adalah realitas yang paling benar, serta realitas lain adalah rivalnya, dan rupanya pemaknaan terakhir inilah yang dipakai hingga detik ini.A Kolonialisme dan imperialisme yang dilakukan oleh bangsa Barat kepada bangsa-bangsa di Timur ternyata menggiring idealisme Barat seperti diatas bertemu dengan realitas Timur yang begitu plural, pertemuan inilah yang kemudian menjadikan religio berubah makna, dari religion menjadi religions. Pertemuan Kekristenan dengan Hindu dan Buddha dengan dharma-nya, dengan Shinto, atau prinsip Yang-Yin khas Konghucu dan Tao. Secara khusus di Indonesia bersentuhan dengan jutaan agama suku di Indonesia dengan nilai-nilai luhur yang ada pada mereka, seperti Kaharingan di Kalimantan dengan konsep Petak Tapajakan yang mengajarkan bahwa bumi ini adalah tempat dimana kita memuliakan Yang Ilahi dengan perbuatan baik kita, juga kepercayaan Uis Neno dari Suku Boti di NTT dengan salah satu ajarannya yang mewajibkan individu menjaga hutan, karena hutan adalah rumah, dimana menyakiti hutan sama artinya dengan menyakiti diri sendiri, atau berbagai aliran Kebatinan yang masih banyak dihidupi oleh masyarakat Jawa. Mengutip pernyataan Wilfred Smith, makna religio ataupun religion sebagaimana yang dipegang teguh oleh bangsa Barat tidak memiliki padanan kata yang sesuai dengan realitas di Timur, dimana agama bukan lagi sebuah sistem yang berada diluar diri manusia. Di China, dari buku AuThe Meaning and The End of ReligionAy, dikatakan bahwa orang yang bukan berasal dari Cina akan sangat heran ketika melihat orang Cina bisa AomemelukAo Buddha, sekaligus mengamalkan nilai-nilai luhur dari Konfusius atau KongHucu, namun juga menghidupi ajaran Taoisme, dan itu adalah hal yang biasa. Praksis hidup semacam itu bukankah juga ada di bumi Pancasila ini? Lalu apa yang salah? Agama di Timur bukanlah sesuatu yang final, bukan AutitikAy melainkan AukomaAy, agama adalah proses, bukan sebagai yang mengikat namun sebagai yang menuntun manusia pada kebajikan, dan maka dari itu agama nampak begitu fleksibel, cair, dan inklusif sehingga meminimalisir terjadinya konflik. Nahasnya, durasi kolonialisme bangsa Barat di Timur, terkhusus di Indonesia, memakan waktu yang begitu lama, hingga meski secara fisik mereka tak lagi menjajah Ibu Pertiwi, namun jejak-jejak hegemoni itu masih terasa meski 75 tahun kita sudah merdeka, dan keadaan ini akan semakin langgeng apabila pemeluk agama-agama AobesarAo yangA tak kunjung menyadari identitas mereka dan masih memaksakan kacamata khas Barat untuk melihat realitas plural bangsa ini dan membuat saudara seIbu Pertiwinya terjajah. Kemerdekaan kita, kebebasan kita, keleluasaan kita, benarkah itu juga memerdekakan sesama kita? Sudahkah membawa damai sejahtera bagi sesama? AtauA malah membuat sesama terluka dan terpenjara dalamA rasa bersalah dan berdosa karena tidak sama dengan kita? A Merdeka, mari juga dilihat secara holistik.A Menutup risalah ini, saya pribadi teringat akan khotbah malam kemerdekaan pada Minggu, 16 Agustus 2020 yang lalu dari salah satu pendeta GKJW, yaitu Pdt. Yuli Erna Wati , Audi tahun ke-75A negara ini merdeka, mari juga kita merdeka ( merdeka = merengkuh dengan kasih) Ay. Merdeka! Oleh : Oktavia Yermiasih Gambar Ilustrasi : www https ( image) Baca selanjutnya: 1 Ae Negeri Oklokrasi - H 26 PSBB.Sby 2 Ae Pancasila: Dari Puncak Kejayaan Majapahit Hingga Pidato Bung Karno 1 Juni 1945 3 Ae Umbelen - H 4 PSBB.sby 4 Ae Media Online Digital GKJW ? 5 Ae ( Bale) Wiyata - Menuju Bujono Suci Pembangunan - Bagian 3

    1. 21 Oct 2020
  • Becik Ketitik Gendheng Ketara Artikel Gerakan Warga GKJW gkjw
    Becik Ketitik "Gendheng" Ketara, Artikel, Gerakan Warga GKJW, gkjw.org

    Kalau anda itu menghayati budaya Jawa pastilah pernah mendengar pepatah bijak warisan leluhur orang Jawa yang berbunyi AuBecik Ketitik Ala KetaraAy. Pepatah ini terjemahan letterlijk-nya adalah AuYang Baik ( akan) terbuktikan, Yang Busuk ( akan) tersingkapkanAy. Di baliknya terkandung bertumpuk makna agung mulia yang tak akan pernah cukup untuk dituliskan. Kalaupun sekarang saya mengutipnya itu bukan berarti saya hendak menjabarkan maknanya. Saya sadar belum cukup bijaksana untuk mengurainya melalui pikiran terbatas saya. Oleh karena itu saya bisanya ya cuma memelesetkannya menjadi AuBecik Ketitik Gendheng KetaraAy. Bagi saya, kata AugendhengAy lebih netral daripada AualaAy. Saya memang belum punya keberanian menghakimi dengan mengatakan AualaAy terhadap pihak lain. Kata AugendhengAy lebih mewakili apa yang saya maksudkan. Kata ini tidak serta merta NEGATIF, karena kata AugendhengAy memang bisa dimaknai Aujauh lebih negatif daripada sekedar negatifAy, tetapi sebaliknya juga bisa berarti Aumelebihi takaran pada umumnyaAy atau Auout of the boxAy. AuKamu itu memang gendheng, sudah tahu begitu ditabrak juga, sekarang rasakanlahAAy atau AuGendheng! Pintar sekali kamu ternyataAAy Jadi kata ini bisa untuk merendahkan sehina-hinanya, atau memuji setinggi-tingginya. Ringkas kata, penilaiannya melebihi batasan umum. Bahwa Auout of the boxAy dalam tulisan ini mau anda maknai dari perspektif positif atau perspektif negatif, itu sepenuhnya terserah anda. Anda bebas menginterpretasinya dari posisi manapun anda berdiri sekarang ini. Entah anda merasa punya agenda tersembunyi atasnya atau tidak, itu bukan urusan saya. Itu bukan domain saya. Saya di sini cuma sekedar mau menyandingkan kata AugendhengAy tersebut dengan kata AukeadilanAy. Terutama keadilan Tuhan yang tersembunyi di balik pepatah pelesetan AuBecik Ketitik Gendheng KetaraAy itu. Artinya Tuhan selalu akan menyingkapkan sesuatu itu sebagai AubecikAy atau AugendhengAy pada waktu yang sangat tepat. Leluhur kita menyebutkannya dengan istilah Auana titi wancineAy. Entah itu dalam hitungan sedetik atau selusin tahun. AuTiti WanciAy itu tidak bisa kita atur. Itu hak Tuhan. nDilalah Autiti wanciAy Tuhan itu ya rentang waktu sekarang ini. Jadi sungguh betul yang disebutkan Rasul Paulus dalam Roma 12:19 yang merujuk pada Ulangan 32:35 di mana Tuhan sendiri bersabda : AuPembalasan itu adalah hak-Ku.Ay Dalam kerangka pikir sekuler apalagi profan bisa saja hal ini dipersepsi sebagai Ausuatu kebetulanAy, tetapi dalam persepsi Jawa ini adalah pola dari Sang Hyang Widhi. Tuhan memang Maha Pengampun, cinta-Nya memang lebih luas dari segala ciptaan-Nya, tetapi bukan berarti lantas dia sekedar menjadi bapak tua yang baik hati tapi pikun dan terlalu mudah melupakan kejadian di masa lalu. Dia adalah adil baik dulu, sekarang maupun yang akan datang. Dan tidak satu makhluk pun yang bakal luput dari keadilan-Nya yang abadi itu, karena kerangka waktu memang tak pernah cukup untuk mengurung-Nya. Dia itu omni-present. Bahwa keadilan-Nya beda dengan yang mampu kita persepsi, itu pasti. Bahwa penyingkapan-Nya bisa terjadi kapan saja, itu niscaya. Bisa sebelum peristiwanya terjadi ( pra-eksistensi) . Bisa persis pada saat peristiwanya terjadi. Juga bisa saja selusin tahun setelah peristiwanya terjadi. Oleh karena itu, bukan lagi Aukapan-nyaAy yang penting di sini, melainkan AuresponAy kita terhadap kuasa-Nya yang seperti itu. Respon kita terhadap keadilan-Nya di balik AuBecik Ketitik Gendheng KetaraAy itu menjadi penting, karena Dia tidak pernah pandang bulu. Entah Sampeyan itu warga awam yang sangat biasa, maupun oknum istimewa yang sedang duduk di singgasana setinggi langit dengan seabrek jabatan khusus. Entah Sampeyan itu pria mapan berwibawa, ataupun wanita karier setengah tuwa. Itu tidak akan pernah bisa meluputkan kita dari penyingkapan-Nya yang luar biasa.. Berbahagialah yang walaupun AugendhengAy tetapi penuh dengan cinta dan siap menerima segala penyingkapan yang Tuhan nyatakan dengan rendah hati. Mari kita ikuti irama tarian keadilan Tuhan ini dengan penuh suka-cita, jangan dengan wajah mrengut. Gak usah dipikir nemen-nemen, langsung eksekusi mau duduk bersila di bawah pohon klengkeng, maupun penekAoan di atasnya, di hadapan-Nya sama rendahnya koq. Persepsi kita saja yang mempermainkan kita seolah bisa membedakan kalau penekAoan itu lebih tinggi daripada yang duduk bersila. ( image) Baca selanjutnya: 1 Ae Bawang Putih Lokal, yang terabaikan. 2 Ae Yesus, Logos dan Tao: Belajar dan Berbagi dari Seorang Guru Taoisme ( 1) 3 Ae Yang Sama, Yang Berubah 4 Ae Memaknai Liturgi di Tengah Pandemi Sebagai Upaya Memperdalam Mistisisme 5 Ae Taubat dan Muallaf dalam Timbangan Kenusantaraan Kita : In Memoriam Mas Didi " Dionisius" Kempot

    1. 10 Sep 2020

Other items

  1. Ibadah Nuansa Pemuda Ae Ibadah Minggu 23 Oktober 2022 GKJW Ngagel Feeds GKJW

    Ibadah Nuansa Pemuda Ae Ibadah Minggu 23 Oktober 2022 GKJW Ngagel

    Feeds GKJW - Ibadah Minggu Ae Pdt.Dwi Pudji Martiningtyas, S.Th Ae 23 Oktober 2022 Warta Jemaat : https://drive.google.com/file/d/1jCoZP6ejTc0xWzh1MF5gkBaka0Xi3uOg/view Mari kita datang beribadah, menyembah dan memuji Tuhan bersama. Ibadah Minggu akan dimulai pada pukul 09.00 WIB. Ibadah Minggu ini dilaksanakan secara Hybrid, yaitu dengan sistem onsite dan online. Sistem ibadah onsite tidak lagi memerlukan pendaftaran. Ibadah Minggu Onsite dilakukan dua kali jam ibadah yaitu pukul 09.00 dan 16.30 A Bambang Heryanto/Wilayah 1 https://bit.ly/KaWil1GKJWN A Prasetyo Utomo/Wilayah 2 https://bit.ly/KaWil2GKJWN A Kuntjoro/Wilayah 3 https://bit.ly/KaWil3GKJWN A Bambang Cukup/Wilayah 4 https://bit.ly/KaWil4GKJWN A Nila/Sekretariat Gereja https://bit.ly/Sekretariat1GKJWN A Didik/Sekretariat Gereja https://bit.ly/Sekretariat2GKJWN Terkait persembahan pada Ibadah Keluarga di rumah : 1. Dapat dikumpulkan sementara oleh keluarga masing-masing dan pada saat yang memungkinkan bisa dibawa ke Gereja. 2. Apabila berkenan untuk mentransfer ke rekening Gereja dipersilahkan ( an. GKJW NGAGEL SURABAYA - BANK CIMB NIAGA - NO. REK 800005579800) 3. Apabila menghendaki konfirmasi persembahan bisa disampaikan melalui WhatsApp kepada : A Bendahara 1/Bpk Catur : 0811371033 A Bendahara 2/Ibu Titik : 085230524140 A Bendahara 3/Ibu Sri Kusniati : 0811342556 Bila anggota jemaat/simpatisan tidak dapat melakukan transfer, maka persembahan dapat disimpan dan dipersembahkan langsung pada kebaktian di gereja. Tuhan Yesus Memberkati. Subscribe channel YouTube GKJW Ngagel untuk mendapatkan informasi seputar Gereja GKJW Ngagel.

    1. 22 Oct 2022
    2. GKJW Ngagel
  2. Tenanglah Kini Hatiku KJ 410 Fingerstyle Rohani Yoseph Hermanto
    Tenanglah Kini Hatiku KJ 410 | Fingerstyle Rohani | Yoseph Hermanto

    Feeds GKJW - #happysunday #Godblessyou Teknik Memetik untuk pemula : https://www.youtube.com/watch? v=22r8x5pqt38&t=4s Teknik Memetik Asik Groovy : https://www.youtube.com/watch? v=2Vld8qERH-4 Teknik Genjrengan Asik Groovy : https://www.youtube.com/watch? v=gq-idg4z9So&t=93s Ilmu2 gitar lainnya : www.karyakarsa.com/yosephhermanto IG : @yosephhermanto

    1. 27 Nov 2022
    2. YH7
  3. Kiat Berguna untuk Sepatu dan Kakimu Feeds GKJW
    Kiat Berguna untuk Sepatu dan Kakimu

    Feeds GKJW - Kiat keren untuk kaki! Tonton video ini untuk kaki yang sehat dan cantik! 0:02- Cara mengatasi kaki kering 0:28 Ae Cara membuka sepatu 0:42 Ae Cara melindungi jari kaki 1:38 Ae Cara makan mi 1:55 Ae Cara melepas label dari pakaian Video ini dibuat untuk tujuan hiburan. Kami tidak membuat jaminan mengenai kelengkapan, keamanan, dan keandalan. Setiap tindakan yang Anda ambil berdasarkan informasi pada video ini sepenuhnya menjadi risiko Anda sendiri, dan kami tidak akan bertanggung jawab atas kerusakan atau kerugian apa pun. Menjadi tanggung jawab penonton agar bertindak penuh pertimbangan, kewaspadaan, dan kehati-hatian apabila Anda berencana meniru. Video berikut ini mungkin menampilkan kegiatan yang dilakukan oleh aktor kami dalam lingkungan yang terkendali Ae harap bertindak penuh pertimbangan, kewaspadaan, dan kehati-hatian apabila Anda hendak meniru. Semua produk dan nama perusahaan yang ditampilkan di video ini adalah merek dagangE atau merek dagang terdaftarA dari masing-masing pemilik. Penggunaan produk tidak menyiratkan afiliasi atau dukungan apa pun dari yang bersangkutan. --------------------------------------------------------------------- Berlangganan ke kanal kami: Kerajinan 5-menit DIY https://bit.ly/2CDmEbd Channel kami lainnya: SISI TERANG https://bit.ly/2QhWOS7 Sisi Terang: https://www.facebook.com/sisi.terang.tsp/ Kerajinan 5-Menit https://bit.ly/33N8Ir6 Musik oleh Epidemic Sound: https://www.epidemicsound.com/ Stok materi ( foto, rekaman, dan lain-lain) : https://www.depositphotos.com https://www.shutterstock.com

    1. 3 Dec 2022
    2. Kerajinan 5-menit DIY
  4. Seri Diva Eps 351 LIBURAN DI RUMAH Diva The Series Official
    Seri Diva | Eps 351 LIBURAN DI RUMAH | Diva The Series Official

    Seri Diva | Eps 351 LIBURAN DI RUMAH | Diva The Series Official Diva The Series merupakan serial televisi untuk anak Indonesia yang diproduksi oleh Kastari Animation ( PT.Kastari Sentra Media) . Bercerita tentang gadis kecil bernama Diva yang selalu ditemani oleh kucing putih yang lucu bernama Pupus. Bersama teman temannya dengan latar belakang suku dan agama yang berbeda, Mona, Febi, Putu dan Tomi, banyak konflik seru yang terjadi setiap hari. Ada nilai moral dan pesan positif untuk anak-anak Indonesia yang disajikan di setiap episode Diva The Series. Melalui serial ini, diharapkan anak anak Indonesia mendapatkan tontonan kartun anak produksi asli Indonesia yang menarik dan mendidik. Bersama Kastari Animation, berikan media hiburan yang terbaik dan mendidik untuk anak anak Indonesia. #divatheseries #liburandirumah

    1. 22 Aug 2022
    2. Diva The Series Official
  5. IBADAH RAYA UNDHUH UNDHUH II 09 OKTOBER 2022 GKJW JEMAAT SURABAYA Feeds GKJW